hits4pay

Friday, February 29, 2008

Unsur-Unsur Berita

Sabtu, 23 Februari 2008

Khususnya bagian tubuh berita dan teras (bila ada) diharapkan hanya mengandung unsur-unsur yang berupa fakta, unsur-unsur faktual, dengan meminimalkan unsur-unsur non-faktual yang berupa opini. Apa yang disebut sebagai “fakta” di dalam kerja jurnalistik terurai menjadi enam unsur yang biasa diringkas dalam sebuah rumusan klasik 5W + 1H.

(1) What – apa yang terjadi di dalam suatu peristiwa?
(2) Who – siapa yang terlibat di dalamnya?
(3) Where – di mana terjadinya peristiwa itu?
(4) When – kapan terjadinya?
(5) Why – mengapa peristiwa itu terjadi?
(6) How – bagaimana terjadinya?

(7) What next – terus bagaimana?

Berita yang lengkap mengandung 6 unsur tsb. Dalam praktik sehari-hari, ada juga berita yang tidak memuat seluruh unsur tsb. Hal itu mungkin saja terjadi, karena keterbatasan ruang atau keterbatasan waktu, sehingga unsur yang paling menonjol sajalah yang dimuat.

Dari 6 unsur tsb, yang mana harus ditonjolkan merupakan pilihan redaktur bidang yang bersangkutan.

Ketajaman memilih yang ingin ditonjolkan (istilah dalam dunia pers: “lead”) tergantung dari si pembuat berita dan redakturnya.

Unsur lain yang perlu diperhatikan dalam pembuatan berita adalah:

  • harus relevan, hangat, eksklusif, ada tujuannya, unik, trendy, prestisius, dramatik, jenaka, memiliki dimensi human interest, magnitude, gaya bahasa, desain dan tataletak yang menarik, foto atau karikatur yang menarik. Lalu disesuaikan dengan watak dan kapasitas media yang bersangkutan, karena ada perbedaan antara media cetak dengan media eletronik.

Dari berbagai aspek tsb ada beberapa yang patut dijadikan pedoman untuk wartawan dan redaktur:

  1. Eksklusif
  2. relevan dan masih hangat
  3. dramatik
  4. jenaka
  5. memiliki dimensi human interest.
Disesuaikan dengan bidangnya:
  1. Politik
  2. Hukum
  3. Kebudayaan
  4. celebrities.

Biasanya redaksi memiliki T.O.R (Terms of References) dalam hal memberi pedoman kerja tsb.

CARA MENYUSUN BERITA

Membuat berita berpedoman yang dikenal sebagai piramida dan piramida terbalik.

Yang dimaksud dengan berita piramida:

Unsur berita terpenting (menurut redaktur/pembuat beritanya) diletakkan dalam awal berita (di puncak piramidanya); misal: berita tentang celebrities, maka yang didahulukan adalah namanya (the Who) atau What-nya (masalahnya: cerai kawin lagi, punya anak kembar, dll). Unsur W lainnya dan H diletakkan belakangan.

Mempergunakan piramida terbalik,

unsur pendalaman berita didahulukan (biasanya the Why), baru diikuti peletakan unsur W lainnya dan H-nya.

Pada dasarnya memilih ini adalah “memilih yang mana yang akan paling banyak menarik apakah theWhat atau the HOW atau the Where atau the Who dan When-nya atau the How-nya''?

Wartawan dan redaktur yang “jeli dan lihai” secara otomatis (intuitif) dapat menetapkan dalam waktu cepat (waktu: unsur penting dalam dunia jurnalistik!): yang mana harus didahulukan dan mempergunakan piramida yang mana yang paling cocok. Di sini terletak “kepandaian memilih” dari pribadi wartawan dan redakturnya.

Dalam cara menyusun berita, ada unsur lain soal “Judul Berita”

Dalam pembuatan judul berita, juga memilih dari unsur 5 W dan 1 H tsb. yang mana akan lebih menarik pembaca/pendengar/pemirsa sehingga timbul minat mereka untuk “terseret” membaca, mendengar dan melihat berita tsb.

Ada yang disebut “piramida” , “piramida terbalik”.

APAKAH OPINI?

Secara singkat bahwa “opini adalah pendapat yang terlepas secara teknis dari berita”.

Penjelasan singkat: sebuah opini seringkali berkaitan langsung dengan berita; namun dalam “etika kalangan wartawan sedunia” opini harus dipisahkan dari berita. Oleh karena itulah, penulis mengatakan “…..terlepas secara teknis……” dalam perumusannya tsb.

Dalam prakteknya pemisahan secara teknis itu berarti bahwa dalam berita tidak boleh ada opini dari pembuat berita (-wartawan dan redakturnya).

Opini atau pendapat bisa mengambil bentuk komentar, tulisan artikel di rubrik tanya-jawab, wawancara khusus mengenai sebuah berita dari narasumber. Hasil kerja menghasilkan opini itu tidak boleh dicampuri pendapat wartawan dan redaktur yang mengerjakannya/membuat dan menyiarkannya. Jika wartawan maupun redakturnya ingin mengemukakan pendapatnya sendiri maka dia harus mengambil bentuk artikel atau rubrik khusus seperti ruang Tajuk Rencana sebuah penerbitan harian/majalah.

Hanya saja, dalam praktik, wartawan dan redaktur yang “lihai” dapat “menitipkan” opininya melalui narasumber yang diwawancarainya;

Pengalaman praktik akan membuat Anda lebih tajam “merasakan” dan dapat mempraktekkan dengan baik.