<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5338564852171294533</id><updated>2011-11-27T15:39:19.810-08:00</updated><category term='jurnalistik'/><category term='berita'/><category term='Semester'/><category term='news value'/><category term='Soal'/><category term='Journalism'/><category term='writing'/><category term='Ujian'/><category term='Journalists'/><category term='nilai berita'/><category term='reporting'/><category term='Tengah'/><title type='text'>News Writing &amp; Journalism</title><subtitle type='html'>The discipline of gathering, writing and reporting news, and broadly it includes the process of editing and presenting the news articles. Journalism applies to various media, but is not limited to newspapers, magazines, radio, and television. Some high schools promote journalism as an elective class.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://pnb2008.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5338564852171294533/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pnb2008.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>iwa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>22</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5338564852171294533.post-6106523112498650841</id><published>2009-12-15T07:30:00.000-08:00</published><updated>2009-12-15T07:45:43.028-08:00</updated><title type='text'>Soal Ujian Akhir Semester Senin/14 Desember 2009</title><content type='html'>Fisip Universitas Atma Jaya Yogyakarta &lt;br /&gt;Soal Ujian Akhir Semester&lt;br /&gt;Penulisan Naskah Berita&lt;br /&gt;Dosen Pengampu : Ikhwanudin SSos&lt;br /&gt;Hari/tanggal   : Senin/14 Desember 2009&lt;br /&gt;Jam            : 13.30-15.30&lt;br /&gt;Sifat          : terbuka/take home&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;(1) Silakan anda terangkan materi yang saya sampaikan pada kuliah terakhir Jumat 4 Desember 2009 (khusus bagi yang masuk kuliah saja)&lt;br /&gt;(2) Buatlah contoh lead berita mengenai: (a) demo anti korupsi (b) perseteruan cicak lawan buaya (c) musibah banjir (d) gempa bumi.&lt;br /&gt;(3) Dalam melakukan wawancara dengan nara sumber, apa yang harus anda lakukan dan persiapkan?&lt;br /&gt;(4) Dalam sebuah berita straight news, bagian mana saja yang menurut anda bisa menggugah pembaca untuk meneruskan membaca berita tersebut.&lt;br /&gt;(5) Sebutkan dan jelaskan, data-data apa saja yang harus anda kumpulkan jika anda meliput berita tentang: (a) demo anti korupsi (b) perseteruan cicak lawan buaya (c) musibah banjir (d) gempa bumi.&lt;br /&gt;(6) Sebutkan dan jelaskan, unsur-unsur apa saja yang harus dimiliki oleh wartawan koran untuk menyusun/menulis berita.&lt;br /&gt;(7) Jika wartawan bertemu dengan nara sumber, kemudian nara sumber tersebut menyebut ''off the record'' apa yang akan anda lakukan. Jelaskan.&lt;br /&gt;(8) Ketika anda meliput berita tentang puting beliung, siapa saja yang harus anda temui untuk dimintai keterangan? Jelaskan.&lt;br /&gt;(9) Berita straight news menganut paham piramida terbalik, jelaskan dan beri contoh berita (bisa anda buat sendiri atau mengutip dari media cetak/online) yang mengandung unsur piramida terbalik tersebut.&lt;br /&gt;(10) Jelaskan cara paling jitu untuk menulis berita straight news agar anda tidak terlambat deadline.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Selesai, semoga sukses  &lt;br /&gt;Catatan:&lt;br /&gt;- Pada tanggal 14 des 2009 jam 13.30 mahasiswa/i mengambil soal ini.&lt;br /&gt;- Soal jawaban dikumpulkan tanggal 16 des 2009 jam 12.00 di TU Fisip UAJY&lt;br /&gt;- Selain itu, mahasiswa/i mengumpulkan softcopy jawaban ke ikhwanudin@gmail.com tgl 16 des 2009, deadline pengiriman jam 23.59&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5338564852171294533-6106523112498650841?l=pnb2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5338564852171294533/posts/default/6106523112498650841'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5338564852171294533/posts/default/6106523112498650841'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pnb2008.blogspot.com/2009/12/soal-ujian-akhir-semester-senin14.html' title='Soal Ujian Akhir Semester Senin/14 Desember 2009'/><author><name>iwa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5338564852171294533.post-3336928808297205576</id><published>2009-11-12T19:37:00.000-08:00</published><updated>2009-11-12T19:38:35.596-08:00</updated><title type='text'>TEKNIK WAWANCARA #2</title><content type='html'>I. Pengertian Wawancara&lt;br /&gt;Wawancara dalam istilah lain dikenal dengan interview. Wawancara merupakan suatu metode pengumpulan berita, data, atau fakta di lapangan. Prosesnya bisa dilakukan secara langsung dengan bertatap muka langsung (face to face) dengan narasumber. Namun, bisa juga dilakukan dengan tidak langsung seperti melalui telepon, internet atau surat (wawancara tertulis).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Untuk menghasilkan sebuah berita yang baik sangat tergantung dari hasil wawancara di lapangan. Sedikitnya data yang diperoleh di lapangan, akan menyulitkan wartawan dalam menulis berita. Untuk itu, dalam melakukan wawancara, upayakan mendapatkan data yang selengkap-lengkapnya di lapangan, khususnya melalui proses wawancara.&lt;br /&gt;Dalam dunia jurnalistik, dikenal beberapa jenis wawancara, antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Wawancara berita (news peg interview) yaitu, wawancara yang dilakukan untuk memperoleh keterangan, konfirmasi atau pandangan narasumber tentang suatu masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Wawancara Pribadi (personel interview) yaitu wawancara untuk memperoleh data tentang pribadi dan pemikiran seseorang (narasumber). Berita yang dihasilkan berupa profil narasumber, meliputi identitas pribadi, perjalanan hidupnya dan pandangan-pandangannya mengenai berbagai masalah yang terkait profesinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Wawancara Ekslusif (exclusive inteview) yaitu wawancara yang dilakukan seseorang wartawan atau lebih (tetapi berasal dari satu media) secara khusus berkaitan masalah tertentu di tempat yang telah disepakati bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Wawancara Keliling/Jalanan (man in the street interview) yaitu wawancara yang dilakukan seorang wartawan dengan menghubungi berbagai interview secara terpisah yang satu sama lain mempunyai kaitan dengan masalah atau berita yang akan ditulis. Misalnya, ada peristiwa kebakaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. KIAT WAWANCARA&lt;br /&gt;Sebagaimana definisi berita, sebenarnya tidak ada kiat yang mutlak untuk melakukan wawancara. Apalagi setiap wartawan punya kiat-kiat tersendiri dalam menemui dan memancing simpati narasumber untuk mau melayani permintaan untuk wawancara.&lt;br /&gt;Namun demikian, ada beberapa hal umum yang perlu menjadi catatan para wartawan sebelum melakukan wawancara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. TAHAP PERSIAPAN&lt;br /&gt;Pada dasarnya, seorang wartawan harus siap setiap saat melakukan wawancara dengan orang lain (narasumber), namun untuk sebuah wawancara yang baik diperlukan persiapan yang baik. Hal-hal yang perlu dipersiapkan antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Fisik.&lt;br /&gt;Sebelum melakukan wawancara, seorang wartawan harus sudah benar-benar sehat secara fisik. Dengan kata lain, kondisi fisiknya benar-benar fit. Fisik yang prima akan mempengaruhi jalannya wawancara maupun hasil yang akan diperoleh dari wawancara tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Mental&lt;br /&gt;Wartawan yang secara mental belum siap untuk melakukan wawancara dengan narasumber berita, akan berakibat fatal terhadap proses wawancara apalagi terhadap hasil yang akan diperoleh. Untuk itu, kesiapan mental sangat diperlukan oleh seorang wartawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Daftar Pertanyaan&lt;br /&gt;Sebelum terjun ke lapangan melakukan wawancara atau wawancara melalui telepon, wartawan harus memiliki daftar pertanyaan yang akan diajukan. Daftar pertanyaan itu disusun sedemikian rupa, sehingga antara pertanyaan yang satu dengan lainnya memiliki hubungan yang jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Buat Janji&lt;br /&gt;Sebelum wawancara, sebaiknya buat dulu janji dengan narasumber sehingga kedua belah pihak sama-sama siap untuk melakukan wawancara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Alat Tulis dan/atau Alat Perekam&lt;br /&gt;Persiapkan alat tulis, seperti pena dan buku catatan. Meski menggunakan alat perekam, alat tulis tetap saja diperlukan terutama untuk menulis nama, gelar dan angka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. TAHAP PELAKSANAAN&lt;br /&gt;Setelah melakukan persiapan, tahapan selanjutnya adalah melakukan wawancara. Tahapan ini merupakan tahapan penting yang akan dilalui seorang wartawan. Pada tahapan ini, ada beberapa hal yang mesti dilakukan, antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Datanglah tepat waktu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Perhatikan penampilan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Perkenalkan diri kepada narasumber (khususnya nama dan media tempat wartawan bekerja)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Perkenalkan masalah yang akan ditanyakan, sehingga narasumber tahu alasan dirinya dijadikan narasumber&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Mulailah dengan pertanyaan ringan (untuk narasumber yang punya banyak waktu) namun to the point (langsung ke persoalan inti) untuk narasumber tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f. Pertanyaan tidak bersifat interogatif atau terkesan memojokkan narasumber, sehingga menjadikan narasumber seperti terdakwa di persidangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g. Hindari pertanyaan yang sifatnya menggurui&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;h. Dengarkan dengan baik jawaban yang disampaikan narasumber. Boleh menyela apabila narasumber lari dari topik yang dibicarakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;i. Jangan ragu untuk mengajukan pertanyaan baru yang muncul dari penjelasan narasumber. Sebab, hal ini senanitasa terjadi dalam setiap wawancara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;j. Setelah seluruh pertanyaan diajukan, jangan lupa memberikan kesempatan kepada narasumber untuk menjelaskan hal-hal yang mungkin belum ditanyakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;k. Usai wawancara, sampaikan ucapan terima kasih kepada narasumber.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5338564852171294533-3336928808297205576?l=pnb2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5338564852171294533/posts/default/3336928808297205576'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5338564852171294533/posts/default/3336928808297205576'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pnb2008.blogspot.com/2009/11/teknik-wawancara-2.html' title='TEKNIK WAWANCARA #2'/><author><name>iwa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5338564852171294533.post-1704144485574165256</id><published>2009-11-12T19:35:00.000-08:00</published><updated>2009-11-12T19:36:53.864-08:00</updated><title type='text'>Teknik Wawancara #1</title><content type='html'>Berita sebagai produk jurnalistik hanya bisa lahir dari fakta-fakta yang ada di masyarakat. Dan di balik fakta-fakta itu tentu ada aktornya. Untuk kelahiran sebuah produk jurnalistik yang sehat, jurnalis harus mampu membuat si aktor bicara. Cara efektif untuk itu, tidak ada lain, kecuali dengan jalan melakukan wawancara.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Dalam aktifitas jurnalistik, sebuah wawancara sudah barang tentu memerlukan berbagai sentuhan  teknik dalam aplikasinya. Dan berbicara ikhwal teknik wawancara, tentu saja kita  akan berhadapan dengan sesuatu yang dinamis bahkan progresif dan juga fleksibel. Artinya, teknik wawancara itu bukan merupakan sesuatu yang musti baku, kaku, apalagi sakral. Teknik itu berkembang  secara dinamis seiring dengan perkembangan masyarakat. Karenanya, para jurnalis juga dituntuk untuk senantiasa memberdayakan diri sesuai tuntutan jaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terpenuhinya prinsip-prinsip keberimbangan bagi sebuah berita, hanya bisa ditempuh dengan wawancara. Dan sekali lagi, hanya dengan wawancara, maka berita sebagai hasil karya jurnalistik akan memiliki daya hidup sekaligus bisa dipertanggungjawabkan. Sebab, dengan wawancara, fakta-fakta dari masyarakat yang dihimpun wartawan akan terekonstruksi dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, Wartawan tidak boleh mengabaikan anatomi persoalan yang terkait dengan temuan fakta-fakta tersebut di lapangan. Dan untuk persoalan-persoalan tertentu, Wartawan wajib  memetakannya. Penyiapan anatomi  persoalan itu bahkan merupakan langkah awal sebelum berlangsungnya sebuah wawancara. Bermutu tidaknya sebuah wawancara, biasanya justru lebih banyak ditentukan oleh hal  tersebut. Misalnya, seorang Wartawan  ingin mengetahui secara detail tentang posisi, peran dan sumbangan intelektual dalam mendorong demokrasi  di Indonesia, maka Wartawan harus mampu menggambarkan  bagaimana kaum intelektual Indonesia mengembangkan wacana yang beragam atas wacana  resmi  Orde Baru di sekitar tema-tema pokok “Pembangunan”, “Dwi fungsi”, “Demokrasi Pancasila”,”Persatuan dan kesatuan” serta  “Sara”. Itu yang penting !.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sana akan bisa dibuat kategori-kategori  intelektual Indonesia. Dan mungkin saja akan segera terpetakan adanya  intelektual  ortodoks, revisionis dan mungkin oposisionis. Secara demikian, setidaknya telah tercipta sarana pemahaman baru yang lebih memadai tentang intelektual Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk sampai pada pemahaman itu, seorang Wartawan harus memiliki referensi cukup tentang berbagai bidang yang diminati. Jadi, wawancara seorang jurnalis hanya akan sukses dan bermutu, manakala ia telah memiliki kesiapan seperti dimaksud. Namun, yang justru tampak rumit,  adalah aktifitas di balik teknik wawancara itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun teknik wawancara bisa dikelompokkan menjadi dua (2) bagian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.            Teknik verbal yang betul-betul memerlukan alat bantu hard ware  yang diperlukan.&lt;br /&gt;2.            Teknik substansial – teknik yang terkait dengan kemampuan jurnalis dari segi ketajaman nuraninya dalam menentukan pilihan tema, tempat dan saat yang tepat bagi berlangsungnya sebuah wawancara. Disini perlu adanya ketajaman analisis sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah pentingnya seorang Wartawan menguasai materi yang hendak diwawancarakannya terhadap narasumber. Hanya dengan cara seperti itu, ia mampu memperoleh informasi banyak dan akurat serta signifikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konkritnya, beberapa hal dibawah ini bolehlah dianggap sebagai tip untuk menunjang suksesnya sebuah wawancara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.            Wartawan harus memakai kalimat tanya yang bisa membuahkan jawaban obyektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.            Pertanyaan harus selalu diusahakan dengan menggunakan kalimat pendek dan mudah dimengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.            Tidak boleh segan-segan mengajukan pertanyaan ulang atas hal-hal yang belum jelas untuk dimengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.            Tahu momentum yang tepat. Juga tahu apa yang layak dan tidak layak untuk ditanyakan, sekaligus cara bertanya yang pas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.            Jauhi pertanyaan yang bernada menggurui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.            Hindari gaya interogasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.            Hindari pertanyaan yang sifatnya mencari legitimasi dari frame pemikiran  yang sebetulnya sudah dimiliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.            Hindari pertanyaan yang bersifat menguji nara sumber.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.            Tumbuhkan sifat empaty dalam wawancara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10.        Untuk hal-hal yang spesifik, wartawan perlu terlebih dahulu memaparkan persoalan yang hendak dimintakan pendapat dari nara sumber.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11.        Hindari kalimat tanya yang bersifat mengadu domba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12.        Buat pertanyaan yang mampu menggugah daya nalar, ingatan serta perspektif  nara sumber.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ke dua belas tips itu, mungkin akan menjadi jaminan suksesnya sebuah wawancara. Tetapi, mungkin juga takkan berguna apa-apa, jika tidak diimbangi dengan kemampuan jurnalistik individu yang mengoperasikannya. Karena itu pula, seorang jurnalis ”haram” mendatangi nara sumber dengan kepala kosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persiapan Wawancara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa persiapan yang harus anda lakukan sebelum melakukan wawancara, diantaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penentuan tema. Mengapa suatu tema harus diangkat? Kenapa harus sekarang? Pertama-tama tanyakan pada diri anda sendiri – mengapa kasus dibawakan sekarang? Dari awal harus sudah jelas peran apa yang akan anda bawakan – informasi apa yang anda mau dari narasumber, apakah perspektifnya, dimana mereka akan anda posisikan.&lt;br /&gt;menentukan Angle. Angle atau sudut pandang sebuah berita ini dibikin untuk membantu tulisan supaya terfokus. Kita tidak mungkin menulis seluruh laporan tentang apa yang kita lihat, atau menulis seluruh uraian yang disampaikan oleh narasumber. Tulisan yang tidak terfokus hanyalah akan membingungkan pembaca. Untk mebentukan angle salah satu cara yang termudah adalah membuat sebuah [pertanyaan tunggal tentang apa yang mau kita tulis. Jawaban pertanyaan tidak boleh melebar kemana-mana. Hal-hal yang tidak relevan dengan angle sebaiknya tidak ditanyakan. Jika ada informasi lain yang disampaikan maka bisa dibuat judul lain. Atau informasi yang sangat penting tersebut tidak cukup untuk dibuat dalam berita tersendiri, maka bikinlah sub judul.&lt;br /&gt;Susunlah outline. Agar memudahkan dalam wawancara maka sebaiknya anda menyusun kerangka berita (outline) atau istilah yang lebih lazim flowchart. Outline berisi antara lain:&lt;br /&gt;Tema berita&lt;br /&gt;Angle&lt;br /&gt;Latar belakang masalah&lt;br /&gt;Narasumber&lt;br /&gt;Daftar pertanyaan &lt;br /&gt; Mengumpulkan Informasi dengan Tepat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketidak akuratan (kesalahan) dalam pemberitaan kebanyakan disebabkan oleh kelalaian (kesembronoan) yang tidak disengaja. Seorang reporter mungkin tidak menggunakan waktu secukupnya untuk mengecek informasinya sebelum menulis berita. Kemudian ia salah menuliskan nara sumber berita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang wartawan kawakan akan mengambil langkah-langkah pencegahan untuk menghindari kesalahan fakta:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila anda mewawancarai seseorang, tanyakan nama, umur, alamat, dan nomor teleponnya. Setelah mengumpulkan informasi, ejalah namanya dan bacakan informasi yang anda peroleh (tangkap) sehingga sumber berita bisa mengoreksinya. Nomor telepon tidak ditulis dalam berita, namun reporter harus mengetahuinya untuk mengadakan kontak dengan sumber berita tersebut.&lt;br /&gt;Bila informasi nara sumber anda peroleh dari tangan kedua, harap dicek pada sumber berita untuk membetulkannya.&lt;br /&gt;Jangan sekali-kali beranggapan bahwa bahwa anda mengetahui semuanya. Anda selalu harus mengecek ulang setiap informasi yang penting.&lt;br /&gt;Bila tulisan anda menyangkut materi yang rumit, pastikanlah dulu bahwa anda mengetahui hal itu.&lt;br /&gt;Umumnya seorang wartawan mengambil peranan sebagai seorang pembaca kebanyakan, dan megajukan pertanyaan sesuai dengan posisi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila menggunakan statistik atau data matematis, reporter harus mengecek angka-angkanya dan menghitung. Banyak wartawan yang berdalih bermacam-macam bila seorag pembaca yang kritis mengirim surat ke redaksi dan menunjukkan perhitungan yang keliru dalam tulisan wartawan.&lt;br /&gt;Statistik harus dicermati benar dengan penuh kecurigaan. Anda bisa membuktikan apa saja dengan statistik, tergantung bagaimana cara anda menyajikannya dan apa saja yang anda masukkan atau tinggalkan. Tanyakanlah kepada sumber secara cermat untuk meyakinkan kebenaran angka-angka tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang reporter tidak boleh membiarkan dirinya menjadi alat untuk menipu masyarakat. Kekritisan dan pengecekan yang teliti sering bisa menghindarkan hal it terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5338564852171294533-1704144485574165256?l=pnb2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5338564852171294533/posts/default/1704144485574165256'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5338564852171294533/posts/default/1704144485574165256'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pnb2008.blogspot.com/2009/11/teknik-wawancara-1.html' title='Teknik Wawancara #1'/><author><name>iwa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5338564852171294533.post-2352237864924973601</id><published>2009-07-17T09:53:00.000-07:00</published><updated>2009-07-17T09:59:44.307-07:00</updated><title type='text'>Teror, Past and Present</title><content type='html'>Jumat (17/7/2009); Hari pendek… kata orang-orang. Pendeknya di mana? Sama saja dengan hari-hari lainnya, panjangnya 24 jam. Namun, ’hari pendek’ pekan ini menjadi sangat istimewa. Bukan karena pasaran Jawa-nya Legi, tapi hari ini menjadi tonggak aksi teror masih saja terjadi. Dulu, teror dilakukan penguasa dengan cara menekan aktivis menggelar aktivitas yang dinilai merongrong kekuasaannya (sekarang pun masih terjadi dengan cara yang lebih halus), diskusi yang membicarakan persoalan sensitif (misalnya mendiskusikan pemikiran Carl Marx, Pramoedya Ananta Toer dan gerakan kiri lainnya) karena dianggap tidak sesuai dengan dasar negara. Teror negara dilakukan dengan berbagai macam bentuk dan rupa, halus sampai kasar, penculikan sampai pembunuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teror yang terjadi hari ini (kabarnya) bukan dilakukan oleh negara. Namun teror terhadap negara. Peledakan hotel JW Marriot dan Ritz Carlton. Teror kasar saya kira. Memakan korban jiwa, puluhan luka berat, ribuan warga terguncang. Teror ini pun menjadi santapan empuk para politisi (yang baru saja sibuk dengan pesta pilpres). Teror kali ini dikaitkan dengan politik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, apa bedanya teror yang dilakukan negara dan teror yang dilakukan orang (atau organisasi) dengan meledakkan hotel? Teror kali ini teror politik, atau teror akan ketidakpuasan terhadap pihak lain? Itu yang belum terungkap. (iwa)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ps: duka cita mendalam bagi korban bom JW Marriot-Ritz Carlton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5338564852171294533-2352237864924973601?l=pnb2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5338564852171294533/posts/default/2352237864924973601'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5338564852171294533/posts/default/2352237864924973601'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pnb2008.blogspot.com/2009/07/teror-past-and-present.html' title='Teror, Past and Present'/><author><name>iwa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5338564852171294533.post-2176263204653140771</id><published>2008-05-08T07:33:00.000-07:00</published><updated>2008-05-08T07:34:09.942-07:00</updated><title type='text'>[Thursday, May 08, 2008] Soal Ujian Akhir Semester Mei 2008</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Mata Kuliah : Penulisan Nakah Berita&lt;br /&gt;Dosen  : A Ikhwanudin SSos&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut adalah soal yang harus Anda kerjakan. Utamakan dikerjakan dengan kemampuan sendiri, bukan dikerjakan rombongan, karena tugas ini adalah tugas perseorangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Dalam menulis berita, apa saja yang harus dilakukan oleh wartawan/penulis media cetak koran? (sebutkan dan beri penjelasan secukupnya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) Ada aturan main yang harus dipenuhi oleh jurnalis media cetak dalam melakukan proses kerja jurnalistik. Jelaskan dengan gamblang proses tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3) Sebutkan dan jelaskan beberapa hal yang harus dilakukan jurnalis media cetak jika tulisannya dimuat di media cetak tempat dia bekerja. Kesalahan apa saja yang sering dilakukan oleh jurnalis media cetak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soalnya tiga saja tersebut…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jogja, Thursday, May 08, 2008; 20:55&lt;br /&gt;Iwa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PS: Nilai yang saya berikan tergantung dari bagaimana anda memberikan jawaban yang cerdas. Semua bahan ada di blog ini, silakan dibuka-buka (bagaikan membuka buku ). Jangan hanya sekadar copy-paste. Penjelasan Anda di setiap soal juga mempengaruhi penilaian saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugas dibuat dalam dua versi: (1) softcopy, dikirimkan ke emal saya, kalau lupa silakan tanya teman anda, atau kontak saya juga boleh  (2) hadrcopy; dikumpulkan di tata usaha pada hari sesuai jadwal ujian PNB digelar Senin (19 Mei 2008) pukul 13.30-15.30 sekaligus tanda tangan kehadiran. Jika ingin mengajukan pertanyaan berkait Tugas UAS ini, kontak saya ya &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5338564852171294533-2176263204653140771?l=pnb2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5338564852171294533/posts/default/2176263204653140771'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5338564852171294533/posts/default/2176263204653140771'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pnb2008.blogspot.com/2008/05/thursday-may-08-2008-soal-ujian-akhir.html' title='[Thursday, May 08, 2008] Soal Ujian Akhir Semester Mei 2008'/><author><name>iwa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5338564852171294533.post-5417558423863828098</id><published>2008-05-08T07:13:00.000-07:00</published><updated>2008-05-08T07:16:24.032-07:00</updated><title type='text'>[Thursday, May 08, 2008] UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 1999 TENTANG PERS</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESAP&lt;br /&gt;RESIDEN REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menimbang:    a   bahwa kemerdekaan pers merupakan salah satu wujud kedaulatan rakyat dan menjadi unsur yang sangat penting untuk menciptakan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang demokratis, sehingga kemerdekaan mengeluarkan pikiran dan pendapata sebagaimana tercantum dalam Pasal 28 Undang-undang Dasar 1945 harus dijamin; &lt;br /&gt;b bahwa dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang demokratis, kemerdekaan menyatakan pikiran dan pendapat sesuai dengan hati nurani dan hak memperoleh informasi, merupakan hak asasi manusia yang sangat hakiki, yang diperlukan untuk menegakkan keadilan dan kebenaran, memajukan kesejateraan umum, dan mencerdaskan kehidupan bangsa; &lt;br /&gt;c bahwa pers nasional sebagai wahana komunikasi massa, penyebar informasi, dan pembentuk opini harus dapat melaksanakan asas, fungsi, hak, kewajiban, dan peranannya dengan sebaik-baiknya berdasarkan kemerdekaan pers yang profesional, sehingga harus mendapat jaminan dan perlindungan hukum, serta bebas dari campur tangan dan paksaan dari manapun; &lt;br /&gt;d bahwa pers nasional berperan ikut menjaga ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial; &lt;br /&gt;e bahwa Undang-undang Nomor 11 Tahun 1966 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pers sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 4 Tahun 1967 dan diubah dengan Undang-undang Nomor 21 Tahun 1982 sudah tidak sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman; f bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, b, c, d, dan e, perlu dibentuk Undang-undang tentang Pers; &lt;br /&gt;Mengingat:    1.  Pasal 5 ayat (1), Pasal 20 ayat (1), Pasal 27, dan Pasal 28 Undang-undang Dasar 1945; &lt;br /&gt;2. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor XVII/MPR/1998 tentang Hak Asasi Manusia; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan persetujuan&lt;br /&gt;DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;MEMUTUSKAN :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menetapkan : UNDANG-UNDANG TENTANG PERS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB I&lt;br /&gt;KETENTUAN UMUM&lt;br /&gt;Pasal 1&lt;br /&gt;Dalam Undang-undang ini, yang dimaksud dengan :&lt;br /&gt;1. Pers adalah lembaga sosial dan wahana komunikasi massa yang melaksanakan kegiatan jurnalistik meliputi mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi baik dalam bentuk tulisan, suara, gambar, suara dan gambar, serta data dan grafik maupun dalam bentuk lainnya dengan menggunakan media cetak, media elektronik, dan segala jenis saluran yang tersedia.&lt;br /&gt;2. Perusahaan pers adalah badan hukum Indonesia yang menyelenggarakan usaha pers meliputi perusahaan media cetak, media elektronik, dan kantor berita, serta perusahaan media lainnya yang secara khusus menyelenggarakan, menyiarkan, atau menyalurkan informasi. &lt;br /&gt;3. Kantor berita adalah perusahaan pers yang melayani media cetak, media elektronik, atau media lainnya serta masyarakat umum dalam memperoleh informasi.&lt;br /&gt;4. Wartawan adalah orang yang secara teratur melaksanakan kegiatan jurnalistik. &lt;br /&gt;5. Organisasi pers adalah organisasi wartawan dan organisasi perusahaan pers. &lt;br /&gt;6. Pers nasional adalah pers yang diselenggarakan oleh perusahaan pers Indonesia. &lt;br /&gt;7. Pers asing adalah pers yang diselenggarakan oleh perusahaan asing. &lt;br /&gt;8. Penyensoran adalah penghapusan secara paksa sebagian atau seluruh materi informasi yang akan diterbitkan atau disiarkan, atau tindakan teguran atau peringatan yang bersifat mengancam dari pihak manapun, dan atau kewajiban melapor, serta memperoleh izin dari pihak berwajib, dalam pelaksanaan kegiatan jurnalistik. &lt;br /&gt;9. Pembredelan atau pelarangan penyiaran adalah penghentian penerbitan dan peredaran atau penyiaran secara paksa atau melawan hukum. &lt;br /&gt;10. Hak Tolak adalah hak wartawan karena profesinya, untuk menolak mengungkapkan nama dan atau identitas lainnya dari sumber berita yang harus dirahasiakannya. &lt;br /&gt;11. Hak Jawab adalah seseorang atau sekelompok orang untuk memberikan tanggapan atau sanggahan terhadap pemberitaan berupa fakta yang merugikan nama baiknya. &lt;br /&gt;12.Hak Koreksi adalah hak setiap orang untuk mengoreksi atau membetulkan kekeliruan informasi yang diberitakan oleh pers, baik tentang dirinya maupun tentang orang lain. &lt;br /&gt;13.Kewajiban Koreksi adalah keharusan melakukan koreksi atau ralat terhadap suatu informasi, data, fakta, opini, atau gambar yang tidak benar yang telah diberitakan oleh pers yang bersangkutan. &lt;br /&gt;14.Kode Etik Jurnalistik adalah himpunan etika profesi kewartawanan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;ASAS, FUNGSI, HAK, KEWAJIBAN DANPERANAN PERS&lt;br /&gt;Pasal 2&lt;br /&gt;Kemerdekaan pers adalah salah satu wujud kedaulatan rakyat yang berasaskan prinsip-prinsip demokrasi, keadilan, dan supremasi hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 3&lt;br /&gt;(1)Pers nasional mempunyai fungsi sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, dan kontrol sosial. &lt;br /&gt;(2)Disamping fungsi-fungsi tersebut ayat (1), pers nasional dapat berfungsi sebagai lembaga ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 4&lt;br /&gt;(1)  Kemerdekaan pers dijamin sebagai hak asasi warga negara.&lt;br /&gt;(2) Terhadap pers nasional tidak dikenakan penyensoran, pembredelan atau pelarangan penyiaran. &lt;br /&gt;(3) Untuk menjamin kemerdekaan pers, pers nasional mempunyai hak mencari, memperoleh, dan menyebarluaskan gagasan dan informasi. &lt;br /&gt;(4) Dalam mempertanggungjawabkan pemberitaan di depan hukum, wartawan mempunyai Hak Tolak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 5&lt;br /&gt;(1) Pers nasional berkewajiban memberitakan peristiwa dan opini dengan menghormati norma-norma agama dan rasa kesusilaan masyarakat serta asas praduga tak bersalah. &lt;br /&gt;(2) Pers wajib melayani Hak Jawab. &lt;br /&gt;(3) Pers wajib melayani Hak Tolak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 6&lt;br /&gt;Pers nasional melaksanakan peranannya sebagai berikut:&lt;br /&gt;a memenuhi hak masyarakat untuk mengetahui; &lt;br /&gt;b menegakkan nilai-nilai dasar demokrasi, mendorong terwujudnya supremasi hukum, dan Hak Asasi Manusia, serta menghormat kebhinekaan; &lt;br /&gt;c mengembangkan pendapat umum berdasarkan informasi yang tepat, akurat dan benar; &lt;br /&gt;d melakukan pengawasan, kritik, koreksi, dan saran terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan umum; &lt;br /&gt;e memperjuangkan keadilan dan kebenaran; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB III&lt;br /&gt;WARTAWAN&lt;br /&gt;Pasal 7&lt;br /&gt;(1) Wartawan bebas memilih organisasi wartawan. &lt;br /&gt;(2) Wartawan memiliki dan menaati Kode Etik Jurnalistik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 8&lt;br /&gt;Dalam melaksanakan profesinya wartawan mendapat perlindungan hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB IV&lt;br /&gt;PERUSAHAAN PERS&lt;br /&gt;Pasal 9&lt;br /&gt;(1) Setiap warga negara Indonesia dan negara berhak mendirikan perusahaan pers. &lt;br /&gt;(2)Setiap perusahaan pers harus berbentuk badan hukum Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 10&lt;br /&gt;Perusahaan pers memberikan kesejahteraan kepada wartawan dan karyawan pers dalam bentuk kepemilikan saham dan atau pembagian laba bersih serta bentuk kesejahteraan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 11&lt;br /&gt;Penambahan modal asing pada perusahaan pers dilakukan melalui pasar modal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 12&lt;br /&gt;Perusahaan pers wajib mengumumkan nama, alamt dan penanggung jawab secara terbuka melalui media yang bersangkutan; khusus untuk penerbitan pers ditambah nama dan alamat percetakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 13&lt;br /&gt;Perusahaan pers dilarang memuat iklan :&lt;br /&gt;a yang berakibat merendahkan martabat suatu agama dan atau mengganggu kerukunan hidup antarumat beragama, serta bertentangan dengan rasa kesusilaan masyarakat; &lt;br /&gt;b minuman keras, narkotika, psikotropika, dan zat aditif lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku; &lt;br /&gt;c peragaan wujud rokok dan atau penggunaan rokok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 14&lt;br /&gt;Untuk mengembangkan pemberitaan ke dalam dan ke luar negeri, setiap warga negara Indonesia dan negara dapat mendirikan kantor berita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB V&lt;br /&gt;DEWAN PERS&lt;br /&gt;Pasal 15&lt;br /&gt;(1)Dalam upaya mengembangkan kemerdekaan pers dan meningkatkan kehidupan pers nasional, dibentuk Dewan Pers yang independen. &lt;br /&gt;(2) Dewan Pers melaksanakan fungsi-fungsi sebagai berikut : &lt;br /&gt;a melindungi kemerdekaan pers dari campur tangan pihak lain; &lt;br /&gt;b melakukan pengkajian untuk pengembangan kehidupan pers; &lt;br /&gt;c menetapkan dan mengawasi pelaksanaan Kode Etik Jurnalistik; &lt;br /&gt;d memberikan pertimbangan dan mengupayakan penyelesaian pengaduan masyarakat atas kasus-kasus yang berhubungan dengan pemberitaan pers;&lt;br /&gt; e mengembangkan komunikasi antara pers, masyarakat, dan pemerintah; &lt;br /&gt;f memfasilitasi organisasi-organisasi pers dalam menyusun peraturan-peraturan di bidang pers dan meningkatkan kualitas profesi kewartawanan; &lt;br /&gt;g mendata perusahaan pers; &lt;br /&gt;(3) Anggota Dewan Pers terdiri dari : &lt;br /&gt;a wartawan yang dipilih oleh organisasi wartawan; &lt;br /&gt;b pimpinan perusahaan pers yang dipilih oleh organisasi perusahaan pers; &lt;br /&gt;c tokoh masyarakat, ahli di bidang pers dan atau komunikasi, dan bidang lainnya yang dipilih oleh organisasi wartawan dan organisasi perusahaan pers;&lt;br /&gt;(4) Ketua dan Wakil Ketua Dewan Pers dipilih dari dan oleh anggota. &lt;br /&gt;(5) Keanggotaan Dewan Pers sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) pasal ini ditetapkan dengan Keputusan Presiden. &lt;br /&gt;(6) Keanggotaan Dewan Pers berlaku untuk masa tiga tahun dan sesudah itu hanya dapat dipilih kembali untuk satu periode berikutnya. &lt;br /&gt;(7) Sumber pembiayaan Dewan Pers berasal dari : &lt;br /&gt;a organisasi pers; &lt;br /&gt;b perusahaan pers; &lt;br /&gt;c bantuan dari negara dan bantuan lain yang tidak mengikat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB VI&lt;br /&gt;PERS ASING&lt;br /&gt;Pasal 16&lt;br /&gt;Peredaran pers asing dan pendirian perwakilan perusahaan pers asing di Indonesia disesuaikan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB VII&lt;br /&gt;PERAN SERTA MASYARAKAT&lt;br /&gt;Pasal 17&lt;br /&gt;(1) Masyarakat dapat melakukan kegiatan untuk mengembangkan kemerdekaan pers dan menjamin hak memperoleh informasi yang diperlukan. &lt;br /&gt;(2) Kegiatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat berupa : &lt;br /&gt;a Memantau dan melaporkan analisis mengenai pelanggaran hukum, dan kekeliruan teknis pemberitaan yang dilakukan oleh pers; &lt;br /&gt;b menyampaikan usulan dan saran kepada Dewan Pers dalam rangka menjaga dan meningkatkan kualitas pers nasional. &lt;br /&gt;BAB VIII&lt;br /&gt;KETENTUAN PIDANA&lt;br /&gt;Pasal 18&lt;br /&gt;(1) Setiap orang yang secara melawan hukum dengan sengaja melakukan tindakan yang berakibat menghambat atau menghalangi pelaksanaan ketentuan Pasal 4 ayat (2) dan ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau denda paling banyak Rp. 500.000.000,00 (Lima ratus juta rupiah). &lt;br /&gt;(2) Perusahaan pers yang melanggar ketentuan Pasal 5 ayat (1) dan ayat (2), serta Pasal 13 dipidana dengan pidana denda paling banyak Rp. 500.000.000,00 (Lima ratus juta rupiah). (&lt;br /&gt;3) Perusahaan pers yang melanggar ketentuan Pasal 9 ayat (2) dan Pasal 12 dipidana dengan pidana denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (Seratus juta rupiah). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB IX&lt;br /&gt;KETENTUAN PERALIHAN&lt;br /&gt;Pasal 19&lt;br /&gt;(1) Dengan berlakunya undang-undang ini segala peraturan perundang-undangan di bidang pers yang berlaku serta badan atau lembaga yang ada tetap berlaku atau tetap menjalankan fungsinya sepanjang tidak bertentangan atau belum diganti dengan yang baru berdasarkan undang-undang ini. &lt;br /&gt;(2) Perusahaan pers yang sudah ada sebelum diundangkannya undang-undang ini, wajib menyesuaikan diri dengan ketentuan undang-undang ini dalam waktu selambat-lambatnya 1 (satu) tahun sejak diundangkannya undang-undang ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB X&lt;br /&gt;KETENTUAN PENUTUP&lt;br /&gt;Pasal 20&lt;br /&gt;Pada saat undang-undang ini mulai berlaku :&lt;br /&gt;(1) Undang-undang Nomor 11 Tahun 1966 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pers (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1966 Nomor 40, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2815) yang telah diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 21 Tahun 1982 tentang Perubahan atas Undang-undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 1966 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pers sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 4 Tahun 1967 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1982 Nomor 52, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia); &lt;br /&gt;(2) Undang-undang Nomor 4 PNPS Tahun 1963 tentang Pengamanan Terhadap Barang-barang Cetakan yang Isinya Dapat Mengganggu Ketertiban Umum (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 23, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2533), Pasal 2 ayat (3) sepanjang menyangkut ketentuan mengenai buletin-buletin, surat-surat kabar harian, majalah-majalah, dan penerbitan-penerbitan berkala; Dinyatakan tidak berlaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 21&lt;br /&gt;Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. &lt;br /&gt;Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Undang-undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disahkan di Jakarta&lt;br /&gt;Pada tanggal 23 September 1999&lt;br /&gt;PRESIDEN REPUBLIK INDONESI&lt;br /&gt;Attd&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BACHARUDIN JUSUF HABIBIE&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diundangkan di Jakarta&lt;br /&gt;Pada tanggal 23 September 1999&lt;br /&gt;MENTERI NEGARA SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA,&lt;br /&gt;ttd&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MULADI &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1999 NOMOR 166&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENJELASAN&lt;br /&gt;ATAS&lt;br /&gt;UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA&lt;br /&gt;NOMOR 40 TAHUN 1999&lt;br /&gt;TENTANG&lt;br /&gt;PERS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I.    UMUM&lt;br /&gt;Pasal 28 Undang-undang Dasar 1945 menjamin kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan. Pers yang meliputi media cetak, media elektronik dan media lainnya merupakan salah satu sarana untuk mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan tersebut. Agar pers berfungsi secara maksimal sebagaimana diamanatkan Pasal 28 Undang-undang Dasar 1945 maka perlu dibentuk Undang-undang tentang Pers. Fungsi maksimal itu diperlukan karena kemerdekaan pers adalah salah satu perwujudan kedaulatan rakyat dan merupakan unsur yang sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang demokratis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kehidupan yang demokratis itu pertanggungjawaban kepada rakyat terjamin, sistem penyelenggaraan negara yang transparan berfungsi, serta keadilan dan kebenaran terwujud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pers yang memiliki kemerdekaan untuk mencari dan menyampaikan informasi juga sangat penting untuk mewujudkan Hak Asasi Manusia yang dijamin dengan Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor XVII/MPR/1998 tentang Hak Asasi Manusia, antara lain yang menyatakan bahwa setiap orang berhak berkomunikasi dan memperoleh informasi sejalan dengan Piagam Perserikatan Bangsa-bangsa tentang Hak Asasi Manusia Pasal 19 yang berbunyi : “Setiap orang berhak atas kebebasan mempunyai dan mengeluarkan pendapat; dalam hal ini termasuk kebebasan memiliki pendapat tanpa gangguan, dan untuk mencari, menerima, dan menyampaikan informasi dan buah pikiran melalui media apa saja dan dengan tidak memandang batas-batas wilayah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pers yang juga melaksanakan kontrol sosial sangat penting pula untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan kekuasaan baik korupsi, kolusi, nepotisme, maupun penyelewengan dan penyimpangan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam melaksanakan fungsi, hak, kewajiban dan peranannya, pers menghormati hak asasi setiap orang, karena itu dituntut pers yang profesional dan terbuka dikontrol oleh masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontrol masyarakat dimaksud antara lain : oleh setiap orang dengan dijaminnya Hak Jawab dan Hak Koreksi, oleh lembaga-lembaga kemasyarakatan seperti pemantau media (media watch) dan oleh Dewan Pers dengan berbagai bentuk dan cara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menghindari pengaturan yang tumpang tindih, undang-undang ini tidak mengatur ketentuan yang sudah diatur dengan ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. PASAL DEMI PASAL&lt;br /&gt;Pasal 1&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 2&lt;br /&gt; Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 3&lt;br /&gt;Ayat 1&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat 2&lt;br /&gt;Perusahaan pers dikelola sesuai dengan prinsip ekonomi, agar kualitas pers dan kesejahteraan para wartawan dan karyawannya semakin meningkat dengan tidak meninggalkan kewajiban sosialnya.&lt;br /&gt;Pasal 4&lt;br /&gt;Ayat 1&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan “kemerdekaan pers dijamin sebagai hak asasi warga negara” adalah bahwa pers bebas dari tindakan pencegahan, pelarangan, dan atau penekanan agar hak masyarakat untuk memperoleh informasi terjamin.&lt;br /&gt;Kemerdekaan pers adalah kemerdekaan yang disertai kesadaran akan pentingnya penegakan supremasi hukum yang dilaksanakan oleh pengadilan, dan tanggung jawab profesi yang dijabarkan dalam Kode Etik Jurnalistik serta sesuai dengan hati nurani insan pers.&lt;br /&gt;Ayat 2&lt;br /&gt;Penyensoran, pembredelan, atau pelarangan penyiaran tidak berlaku pada media cetak dan media elektronik. Siaran yang bukan merupakan bagian dari pelaksanaan kegiatan jurnalistik diatur dalam ketentuan undang-undang yang berlaku.&lt;br /&gt;Ayat 3&lt;br /&gt;Cukup jelas &lt;br /&gt;Ayat 4&lt;br /&gt;Tujuan utama Hak Tolak adalah agar wartawan dapat melindungi sumber-sumber informasi, dengan cara menolak menyebutkan indentitas sumber informasi.&lt;br /&gt;Hal tersebut dapat digunakan jika wartawan dimintai keterangan oleh pejabat penyidik dan atau diminta menjadi saksi di pengadilan.&lt;br /&gt;Hak tolak dapat dibatalkan demi kepentingan dan keselamatan negara atau ketertiban umum yang dinyatakan oleh pengadilan.&lt;br /&gt;Pasal 5&lt;br /&gt;Ayat 1&lt;br /&gt;Pers nasional dalam menyiarkan informasi, tidak menghakimi atau membuat kesimpulan kesalahan seseorang, terlebih lagi untuk kasus-kasus yang masih dalam proses peradilan, serta dapat mengakomodasikan kepentingan semua pihak yang terkait dalam pemberitaan tersebut.&lt;br /&gt;Ayat 2&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat 3&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 6&lt;br /&gt;Pers nasional mempunyai peranan penting dalam memenuhi hak masyarakat untuk mengetahui dan mengembangkan pendapat umum, dengan menyampaikan informasi yang tepat, akurat dan benar. Hal ini akan mendorong ditegakkannya keadilan dan kebenaran, serta diwujudkannya supremasi hukum untuk menuju masyarakat yang tertib.&lt;br /&gt;Pasal 7&lt;br /&gt;Ayat 1&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat 2&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan “Kode Etik Jurnalistik” adalah kode etik yang disepakati organisasi wartawan dan ditetapkan oleh Dewan Pers.&lt;br /&gt;Pasal 8&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan “perlindungan hukum” adalah jaminan perlindungan Pemerintah dan atau masyarakat kepada wartawan dalam melaksanakan fungsi, hak, kewajiban, dan peranannya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.&lt;br /&gt;Pasal 9&lt;br /&gt;Ayat 1&lt;br /&gt;Setiap warga negara Indonesia berhak atas kesempatan yang sama untuk bekerja sesuai dengan Hak Asasi Manusia, termasuk mendirikan perusahaan pers sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.&lt;br /&gt;Pers nasional mempunyai fungsi dan peranan yang penting dan strategis dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Oleh karena itu, negara dapat mendirikan perusahaan pers dengan membentuk lembaga atau badan usaha untuk menyelenggarakan usaha pers.&lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;Ayat 2&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 10&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan “bentuk kesejahteraan lainnya” adalah peningkatan gaji, bonus, pemberian asuransi dan lain-lain.&lt;br /&gt;Pemberian kesejahteraan tersebut dilaksanakan berdasarkan kesepakatan antara manajemen perusahaan dengan wartawan dan karyawan pers.&lt;br /&gt;Pasal 11&lt;br /&gt;Penambahan modal asing pada perusahaan pers dibatasi agar tidak mencapai saham mayoritas dan dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.&lt;br /&gt;Pasal 12&lt;br /&gt;Pengumuman secara terbuka dilakukan dengan cara :&lt;br /&gt;media cetak memuat kolom nama, alamat, dan penanggung jawab penerbitan serta nama dan alamat percetakan; &lt;br /&gt;media elektronik menyiarkan nama, alamat, dan penanggungjawabnya pada awal atau akhir setiap siaran karya jurnalistik; &lt;br /&gt;media lainnya menyesuaikan dengan bentuk, sifat dan karakter media yang bersangkutan. &lt;br /&gt;Pengumuman tersebut dimaksudkan sebagai wujud pertanggungjawaban atas karya jurnalistik yang diterbitkan atau disiarkan.&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan “penanggung jawab” adalah penanggung jawab perusahaan pers yang meliputi bidang usaha dan bidang redaksi.&lt;br /&gt;Sepanjang menyangkut pertanggungjawaban pidana pengamat ketentuan perundang-undangan yang berlaku.&lt;br /&gt;Pasal 13&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 14&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 15&lt;br /&gt;Ayat 1&lt;br /&gt;Tujuan dibentuknya Dewan Pers adalah untuk mengembangkan kemerdekaan pers dan meningkatkan kualitas serta kuantitas pers nasional.&lt;br /&gt;Ayat 2&lt;br /&gt;Pertimbangan atas pengaduan dari masyarakat sebagaimana dimaksud ayat (2) huruf d adalah yang berkaitan dengan Hak Jawab, Hak Koreksi dan dugaan pelanggaran terhadap Kode Etik Jurnalistik.&lt;br /&gt;Ayat 3&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat 4&lt;br /&gt; Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat 5&lt;br /&gt; Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat 6&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat 7&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 16&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 17&lt;br /&gt;Ayat 1&lt;br /&gt; Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat 2&lt;br /&gt;Untuk melaksanakan peran serta masyarakat sebagaimana dimaksud dalam ayat ini dapat dibentuk lembaga atau organisasi pemantau media (media watch).&lt;br /&gt;Pasal 18&lt;br /&gt;Ayat 1&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Ayat 2&lt;br /&gt;Dalam hal pelanggaran pidana yang dilakukan oleh perusahaan pers, maka perusahaan tersebut diwakili oleh penanggung jawab sebagaimana dimaksud dalam penjelasan Pasal 12.&lt;br /&gt; Ayat 3&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 19&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 20&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;Pasal 21&lt;br /&gt;Cukup jelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia nomor 3887&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5338564852171294533-5417558423863828098?l=pnb2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5338564852171294533/posts/default/5417558423863828098'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5338564852171294533/posts/default/5417558423863828098'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pnb2008.blogspot.com/2008/05/thursday-may-08-2008-undang-undang.html' title='[Thursday, May 08, 2008] UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 1999 TENTANG PERS'/><author><name>iwa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5338564852171294533.post-8690325846903211980</id><published>2008-05-08T07:12:00.001-07:00</published><updated>2008-05-08T07:12:51.228-07:00</updated><title type='text'>[torsdag den 8 maj 2008] Praktek Jurnalistik yang Tidak Etis</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Pernyataan Dewan Pers&lt;br /&gt;Nomor: 1/P- DP/III/2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tentang&lt;br /&gt;Praktek Jurnalistik yang Tidak Etis &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewan Pers beberapa bulan belakangan ini menerima sejumlah pengaduan, pemberitahuan, dan permohonan perlindungan terkait dengan praktik-praktik jurnalisme yang tidak sejalan dengan prinsip-prinsip etika. Terdapat pengaduan yang mempertanyakan cara-cara etis dalam melakukan wawancara, media secara sepihak mengklaim adanya informasi manipulasi yang perlu dikonfirmasi, yang berujung pada upaya pemerasan. Contoh pengaduan lainnya menyangkut nama “penerbitan pers” yang menimbulkan kesalahpahaman (misalnya, penamaan tabloid KPK, yang tidak ada kaitannya dengan Komisi Pemberantasan Korupsi; nama penerbitan Buser yang mengesankan sebagai satuan tugas kepolisian).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Praktek pelanggaran etika jurnalistik tersebut memanfaatkan kemerdekaan pers dengan menyalahgunakan prinsip-prinsip kemerdekaan pers untuk keuntungan atau kepentingan individu. Dengan menyalahgunakan kartu pers, organisasi wartawan, atau institusi pers, sejumlah individu mengidentifikasi diri sebagai “wartawan” sebagai sarana mencari keuntungan secara kurang etis.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh tersebut merupakan sebagian dari persoalan yang muncul dari praktek penyalahgunaan institusi pers dan profesi wartawan. Dengan semakin maraknya kasus-kasus penyalahgunaan tersebut, Dewan Pers pada kesempatan ini merasa perlu menegaskan kembali prinsip-prinsip etika jurnalistik, untuk diketahui dan menjadi pegangan masyarakat ketika berhadapan dengan wartawan atau pers:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Wartawan wajib menegakkan prinsip-prinsip etika, seperti yang tercantum dalam Kode Etik Jurnalistik (KEJ), yang telah disepakati oleh organisasi-organisasi wartawan. Wartawan tidak menggunakan cara-cara pemaksaan dan klaim sepihak terhadap informasi yang ingin dikonfirmasikan kepada narasumber. &lt;br /&gt;2. Wartawan tidak boleh menerima suap (amplop) dari narasumber dalam mencari informasi, oleh karena itu masyarakat/narasumber tidak perlu menyuap wartawan. Kode Etik Jurnalistik dengan jelas menyatakan wartawan Indonesia selalu menjaga kehormatan profesi dengan tidak menerima imbalan dalam bentuk apa pun dari sumber berita. Dengan tidak menyuap, masyarakat turut membantu upaya menegakkan etika dan upaya memberantas praktek penyalahgunaan profesi wartawan.&lt;br /&gt;3. Masyarakat berhak menanyakan identitas wartawan dan mencek kebenaran status media tempatnya bekerja. Masyarakat berhak menolak melayani wartawan yang menyalahgunakan profesinya dalam melakukan kegiatan jurnalistik. &lt;br /&gt;4. Dewan Pers mengimbau agar komunitas wartawan dan pers bahu-membahu bersama masyarakat untuk memerangi praktik penyalahgunaan profesi wartawan dan melaporkan pada kepolisian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 5 Maret 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewan Pers&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prof. Dr. Ichlasul Amal, M.A.&lt;br /&gt;Ketua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5338564852171294533-8690325846903211980?l=pnb2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5338564852171294533/posts/default/8690325846903211980'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5338564852171294533/posts/default/8690325846903211980'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pnb2008.blogspot.com/2008/05/torsdag-den-8-maj-2008-praktek.html' title='[torsdag den 8 maj 2008] Praktek Jurnalistik yang Tidak Etis'/><author><name>iwa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5338564852171294533.post-8858098163602362477</id><published>2008-05-08T07:09:00.000-07:00</published><updated>2008-05-08T07:10:21.463-07:00</updated><title type='text'>[Thursday, May 08, 2008] Penulis Sebagai Sebuah Alternatif Karir</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Onno W. Purbo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengarang, menulis, tata bahasa dan pelajaran bahasa Indonesia barangkali merupakan pelajaran paling memuakan pada saat kita di sekolah menengah. Tidak heran jika penulis dan jurnalistik pada akhirnya bukan merupakan sebuah karir yang di cita-citakan oleh banyak anak Indonesia, kalah jauh di bandingkan dengan Insinyur, dokter, dan pilot atau mungkin jendral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari banyak pengamatan sehari-hari, tampaknya orang Indonesia lebih suka menyampaikan ide &amp; pendapatnya secara oral, berpidato, berbicara di hadapan umum. Berbeda dengan pembicara, seorang penulis melalui tulisan &amp; bukunya, pembaca dapat kapan saja membaca ide &amp; ilmu yang kita sebarkan. Hal ini menyebabkan dampak sebuah buku &amp; tulisan menjadi jauh lebih dahsyat daripada kemampuan memberikan ceramah &amp; pidato.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara sederhana, seorang pembicara yang baik biasanya memberikan pidato di hadapan beberapa ratus orang dalam sebuah acara atau ceramah. Seorang penulis akan berhadapan langsung dengan puluhan ribu orang dari satu bukunya. Secara sederhana, semakin banyak dampak yang di timbulkan semakin besar reward, rejeki &amp; pahala-nya. Tidak percaya? Coba bandingkan penyanyi dangdut dengan penyanyi R&amp;B atau Rock, siapa diantara mereka yang memperoleh rejeki yang lebih banyak  …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rejeki &amp; penghasilan barangkali merupakan salah satu parameter penentu bagi sebagian orang dalam menentukan karir. Seorang sarjana baru lulus, biasanya memperoleh penghasilan antara Rp. 750.000 s/d satu juta / bulan. Penulis biasanya akan memperoleh sekitar Rp. 80.000 s/d 250.000 / artikel yang diselesaikan dalam waktu dua (2) jam. Untuk sebuah buku, bisa memperoleh antara Rp. 2-4 juta / 10.000 eksemplar. Biasanya dibutuhkan waktu satu (1) bulan untuk menyelesaikan sebuah buku. Terus terang, penghasilan Rp. 3-4 juta / bulan adalah minimal untuk seorang penulis yang serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, seorang penulis biasanya juga sering di undang sebagai seorang orang penceramah. Mungkin karena pertemuan fisik masuk dibutuhkan untuk meyakinkan seseorang tidak hanya membaca tulisan seseorang. Jangan kaget, jika telah menjadi penulis yang serius, waktu kita di rumah menjadi lebih jarang karena harus meluangkan untuk mengunjungi banyak kota memberikan ceramah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus terang, saya pribadi barangkali termasuk orang yang terjerebab masuk ke dalam dunia tulis menulis. Mengawali karir sebagai dosen di ITB, ternyata tidak menimbulkan dampak yang terlalu besar karena hanya membuat pandai ratusan mahasiswa setiap semester. Setelah pensiun menjadi dosen ITB pada bulan Februari 2002, melalui tulisan saya mampu membuat pandai puluhan ribu orang dari satu buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bermodal nekad, tanpa pengetahuan bahasa yang baik, bahkan bermodalkan dengan nilai 6 untuk pelajaran bahasa waktu SMP &amp; SMU tampaknya bukan menjadi penghalang yang utama.  Untuk menjadi penulis yang baik, ada dua (2) modal utama yang mungkin perlu di pegang erat-erat, yaitu (1) banyak membaca dan mendalami hal-hal yang kita sukai, dan (2) fokus dan berdedikasi pada hal yang kita sukai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit trik untuk menyelesaikan sebuah tulisan &amp; buku dengan baik, secara umum kita akan melalui tiga (3) tahap  utama, yaitu, persiapan, penulisan, dan penerbitan. Pada tahap persiapan, kita harus banyak membaca, mencoba trik dan bahan yang akan kita tuliskan, tahap ini membutuhkan waktu lama dan ketelatenan dalam mendokumentasikan berbagai referensi dan hasil penelitian yang dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahap penulisan, saya biasanya di bantu dengan Microsoft Power Point untuk  menuliskan alur cerita yang ingin di ceritakan. Jika diperlukan, power point tersebut juga dapat digunakan untuk memberikan ceramah. Selanjutnya, kita perlu menyiapkan beberapa detail pendukung tulisan yang akan dibuat, seperti, gambar, rangkaian, dan listing program, biasanya membutuhkan waktu lumaya lama untuk menyiapkan berbagai hal pendukung tersebut. Baru setelah semua siap, kita dapat menuangkan kata-kata dalam naskah biasanya di pisahkan berkas-nya untuk setiap bab dan gambarnya untuk memudahkan proses pengeditan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah naskah selesai, selanjutnya tinggal melakukan negosiasi dengan pihak penerbit. Minimal penerbit membutuhkan informasi tentang daftar isi, outline tulisan, abstrak tulisan, target pembaca. Jika di setujui kita tinggal melakukan negosiasi untuk menandatangani kerjasama penerbitan naskah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang perlu di ingat bagi penulis pemula, sangat sukar untuk membuat buku yang ideal yang mencakup banyak hal. Sebaiknya di fokuskan pada hal tertentu yang terbatas, sehingga dapat di jangkau dalam 100-200 halaman saja. Pengakuan keberhasilan seorang penulis biasanya akan datang langsung dari masyarakat. Nikmatnya, semua itu dapat dilakukan di rumah saja, tanpa perlu ke kantor, tanpa perlu pergi ke tempat kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5338564852171294533-8858098163602362477?l=pnb2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5338564852171294533/posts/default/8858098163602362477'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5338564852171294533/posts/default/8858098163602362477'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pnb2008.blogspot.com/2008/05/thursday-may-08-2008-penulis-sebagai.html' title='[Thursday, May 08, 2008] Penulis Sebagai Sebuah Alternatif Karir'/><author><name>iwa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5338564852171294533.post-8503417865708693369</id><published>2008-05-08T07:06:00.000-07:00</published><updated>2008-05-08T07:07:12.874-07:00</updated><title type='text'>[Thursday, May 08, 2008] Menjadi Penulis Artikel, Buku &amp; Cerita, Mudahkah?</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Onno W. Purbo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengarang barangkali merupakan pelajaran yang paling membosankan pada masa SD. Pernahkan kita berfikir bahwa pekerjaan mengarang, menulis merupakan pekerjaan yang sebetulnya paling menyenangkan di dunia ini? Bayangkan, berbeda dengan pekerjaan lainnya yang harus datang ke kantor tepat waktu; pulang kadang malam hari; kekurangan waktu untuk keluarga karena harus pergi bekerja; persaingan yang ketat &amp; membuat kita stress sukur-sukur tidak jantungan &amp; mati karena terserang stroke. Dalam dunia menulis, mengarang ternyata kejadian-kejadian di atas tidak terjadi. Bahkan yang membuat dunia ini menjadi lebih ceria lagi adalah tidak adanya (sangat kurang) persaingan dalam pekerjaan sebagai penulis. Betul di Indonesia jarang sekali orang yang mendedikasikan hidup-nya untuk menulis saja, artinya persaingan sebagai penulis amat sangat tidak seru &amp; hampir tidak perlu bersaing untuk menjadi penulis lepas. Bisa di maklumi karena bangsa Indonesia bukan bangsa yang suka menulis, mereka lebih suka berbicara, berdebat &amp; berteriak bahkan mungkin berkelahi – bisa kita lihat contohnya pada kelakuan para elit politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asiknya menulis, sebagian besar waktu kerja anda dapat dilakukan di rumah, atau jika anda memiliki laptop dapat dilakukan dimana saja. Artinya, waktu untuk keluarga praktis menjadi lebih banyak, hampir setiap hari jika anda menghendaki dapat hidup bersama keluarga anda di rumah. Hidupkah anda dari menulis saja? Insya Allah anda akan hidup – bayangkan satu tulisan kadang di hargai Rp. 250.000 s/d Rp. 1 juta untuk panjang 6000-15000 huruf yang dapat dilakukan dalam waktu sekitar 2 jam saja. Rasanya membutuhkan waktu kerja satu bulan bagi sarjana yang baru lulus untuk memperoleh uang sebanyak itu, belum lagi biaya transportasi yang demikian tinggi. Jika anda sanggup menulis buku agak lumayan hasilnya sekitar Rp. 3-4 juta / buku (untuk 10000 eksemplar). Yang paling mengasyikan sebagai penulis adalah undangan memberikan ceramah, sekali ceramah 1-2 jam bukan mustahil akan memperoleh antara Rp. 250.000 s/d Rp. 6 juta / ceramah tergantung penyelenggaranya. Kalau saya perhatikan semua ini sangat tergantung pada tingkat produktifitas anda dalam menulis &amp; menyebarkan ilmu pengetahuan. Pada sisi ekstrim, semakin banyak pengetahuan anda menyebar ke masyarakat melalui berbagai media (bahkan yang gratis sekalipun seperti melalui Web), maka Insya Allah rizki akan datang kepada anda berlipat ganda, sesuai janji Sang Pencipta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat ini, kebetulan sekali dunia teknologi informasi tampaknya sedang sangat booming, kebutuhan akan informasi tentang teknologi informasi menjadi demikian besar. Banyak sekali majalah, koran, surat kabar, tabloid yang berkaitan dengan Teknologi Informasi, mulai dari Koran Tempo, Telset, Infokomputer, NeoTek, Chip, Majalah Internet, infolinux, dotcom, dotnet, majalah teknologi, KOMPAS, Republika, Bisnis Indonesia, Jakarta Post banyak sekali. Di samping itu, ada beberapa penerbit buku yang mempunyai fokus ke Teknologi Informasi, seperti Elexmedia Komputindo, Penerbit ITB, Gramedia. Belum lagi berbagai media online seperti detik.com, astaga.com dll yang akan dengan senang hati menerima penerbitan tulisan / artikel anda. Jelas kebutuhan akan berbagai tulisan khususnya bidang teknologi informasi menjadi sangat banyak, dengan jumlah penulis yang demikian sedikit – betapa nikmatnya hidup hampir tanpa saingan &amp; rizki yang melimpah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang perlu kita lakukan dalam memulai karir sebagai penulis ini? Sebetulnya tidak banyak, sudah tentu bekal pengetahuan yang cukup tentang bidang yang akan kita tulis akan sangat membantu. Khususnya untuk dunia Teknologi Informasi, sebetulnya anda cukup beruntung karena ilmu di teknologi informasi berkembang terus dengan sangat pesat sehingga dari bidang apapun anda dapat menulis tentang berbagai aspek teknologi informasi. Kunci utamanya adalah kemauan untuk membaca berbagai tulisan, artikel tentang teknologi informasi yang sebetulnya banyak sekali &amp; dapat di ambil secara gratis di Internet, seperti http://www.linuxdoc.org, http://pandu.dhs.org, http://ecommerce.internet.com, http://www.infolinux.web.id dsb. Jika kita perhatikan di berbagai tulisan yang ada, sebetulnya latar belakang ekonomi, sosial, hukum dsb. juga dibutuhkan di dunia teknologi informasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentunya bergabung &amp; berdiskusi dengan rekan penulis teknologi informasi lainnya juga akan sangat membantu. Salah satu pangkalan bagi penulis teknologi informasi Indonesia adalah penulis-ti@yahoogroups.com yang saat ini beranggotakan hampir seratusan penulis TI &amp; sebagian sudah menulis beberapa buku tentang TI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi pemula yang ingin mencoba mendalami dunia tulis menulis, alangkah baiknya jika dapat dilakukan sejak dini bahkan kalau mungkin sejak SD. Ada beberapa situs di Internet yang akan dapat membantu kita sebagai penulis, saya coba fokuskan justru ke situs-situs yang memberikan inspirasi bagi anak-anak dalam mencoba menulis sejak dini. Bagi yang ingin serius sebagai penulis, ada baiknya search di http://www.google.com dengan menggunakan keyword “technical writer” atau “technical writing”. Memang sebagian besar informasi masih berbahasa Inggris, tapi paling tidak akan memberikan inspirasi proses menjadi seorang penulis yang baik. Situs tersebut antara lain adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Aaron Shepard's Young Author Page http://www.aaronshep.com/youngauthor/ - situs untuk penulis anak-anak yang di kelola oleh Aaron Shepard.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Arthur: Letter Writer Helper http://www.pbs.org/wgbh/arthur/arthur/postcards/letterwriter_helper.html - tempat Arthur memberikan pelajaran bagaimana menulis surat yang baik &amp; “cool” dan beberapa fakta tentang surat menyurat &amp; e-mail.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Buddy's Bearded Collie Literacy Notebook http://www.skylinc.net/~scarfone/buddy.htm Buddy, a Bearded Collie, menolong anak-anak untuk menulis &amp; membaca. Untuk mendapat berbagai ide untuk menulis, bahkan memasukan ceita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Candlelight Stories http://www.candlelightstories.com/ - tempat banyak e-book di simpan. Beberapa di antara di tulis oleh anak-anak. Jika anda masuk ke writing area, anda akan mengetahui bagaimana cara mempublikasi tulisan anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• CBC 4 Kids: Words http://www.cbc4kids.ca/general/words/default.html - anda dapat mengikuti perlombaan menulis, berpartisipasi dalam cerita yang tak pernah berhenti (never ending story), mencek buku &amp; pengarang yang baik, mendengarkan drama radio dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Children's Book Guy http://members.home.net/komalley/ - menerangkan bagaimana cara menulis &amp; mempublikasikan buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Elements of Style http://www.bartleby.com/141/ -  tata bahasa, penggunaan kata, bentuk &amp; ekspresi dalam bahasa Inggris tentunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• HP Student Center http://www.hpstudentcenter.com/ - berbagai resensi buku, proyek, game, aktifitas, dan workshop tentang menulis untuk anak-anak di tingkat SMP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Incredible Story Studio http://www.storystudio.com/ - Untuk anak-anak muda (10-14 tahun) yang ingin menulis cerita untuk televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Online Literacy http://www.nexus.edu.au/teachstud/onlit/index.html - berbagai tip yang “cool” untuk berbicara, mendengarkan, menulis &amp; membaca di kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Page by Page: Creating a Children's Book http://www.nlc-bnc.ca/pagebypage/ - Tour step-by-step proses pembuatan buku menggunakan buku dari Tim Wynne-Jones yang berjudul Zoom Upstream sebagai contoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• The Write Site http://www.writesite.org/ - untuk mengeksplorasi dunia jurnalistik, termasuk informasi bagaimana cara melakukan penelitian dan membangun gaya anda sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Young Writers' Clubhouse http://www.realkids.com/club.shtml - untuk memperoleh ide &amp; saran untuk tulisan anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5338564852171294533-8503417865708693369?l=pnb2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5338564852171294533/posts/default/8503417865708693369'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5338564852171294533/posts/default/8503417865708693369'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pnb2008.blogspot.com/2008/05/thursday-may-08-2008-menjadi-penulis.html' title='[Thursday, May 08, 2008] Menjadi Penulis Artikel, Buku &amp; Cerita, Mudahkah?'/><author><name>iwa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5338564852171294533.post-860693452189067045</id><published>2008-05-08T07:02:00.000-07:00</published><updated>2008-05-08T07:03:14.974-07:00</updated><title type='text'>[Thursday, May 08, 2008] KODE ETIK JURNALISTIK</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Kemerdekaan berpendapat, berekspresi, dan pers adalah hak asasi manusia yang dilindungi Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, dan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia PBB. Kemerdekaan pers adalah sarana masyarakat untuk memperoleh informasi dan berkomunikasi, guna memenuhi kebutuhan hakiki dan meningkatkan kualitas kehidupan manusia. Dalam mewujudkan kemerdekaan pers itu, wartawan Indonesia juga menyadari adanya kepentingan bangsa, tanggung jawab sosial, keberagaman masyarakat, dan norma-norma agama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam melaksanakan fungsi, hak, kewajiban dan peranannya, pers menghormati hak asasi setiap orang, karena itu pers dituntut profesional dan terbuka untuk dikontrol oleh masyarakat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menjamin kemerdekaan pers dan memenuhi hak publik untuk memperoleh informasi yang benar, wartawan Indonesia memerlukan landasan moral dan etika profesi sebagai pedoman operasional dalam menjaga kepercayaan publik dan menegakkan integritas serta profesionalisme. Atas dasar itu, wartawan Indonesia menetapkan dan menaati Kode Etik Jurnalistik: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 1&lt;br /&gt;Wartawan Indonesia bersikap independen, menghasilkan berita yang akurat, berimbang, dan tidak beritikad buruk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penafsiran &lt;br /&gt;a. Independen berarti memberitakan peristiwa atau fakta sesuai dengan suara hati nurani tanpa campur tangan, paksaan, dan intervensi dari pihak lain termasuk pemilik perusahaan pers. &lt;br /&gt;b. Akurat berarti dipercaya benar sesuai keadaan objektif ketika peristiwa terjadi. &lt;br /&gt;c. Berimbang berarti semua pihak mendapat kesempatan setara. &lt;br /&gt;d. Tidak beritikad buruk berarti tidak ada niat secara sengaja dan semata-mata untuk menimbulkan kerugian pihak lain. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pasal 2&lt;br /&gt;Wartawan Indonesia menempuh cara-cara yang profesional dalam melaksanakan tugas jurnalistik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penafsiran &lt;br /&gt;Cara-cara yang profesional adalah: &lt;br /&gt;a.      menunjukkan identitas diri kepada narasumber; &lt;br /&gt;b.     menghormati hak privasi; &lt;br /&gt;c.      tidak menyuap; &lt;br /&gt;e. menghasilkan berita yang faktual dan jelas sumbernya; rekayasa pengambilan dan pemuatan atau penyiaran gambar, foto, suara dilengkapi dengan keterangan tentang sumber dan ditampilkan secara berimbang; &lt;br /&gt;f. menghormati pengalaman traumatik narasumber dalam penyajian gambar, foto, suara; &lt;br /&gt;g. tidak melakukan plagiat, termasuk menyatakan hasil liputan wartawan lain sebagai karya sendiri; &lt;br /&gt;h.  penggunaan cara-cara tertentu dapat dipertimbangkan untuk peliputan berita investigasi bagi kepentingan publik. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pasal 3&lt;br /&gt;Wartawan Indonesia selalu menguji informasi, memberitakan secara berimbang, tidak mencampurkan fakta dan opini yang menghakimi, serta menerapkan asas praduga tak bersalah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penafsiran &lt;br /&gt;a. Menguji informasi berarti melakukan check and recheck tentang kebenaran informasi itu. &lt;br /&gt;b. Berimbang adalah memberikan ruang atau waktu pemberitaan kepada masing-masing pihak secara proporsional. &lt;br /&gt;c. Opini yang menghakimi adalah pendapat pribadi wartawan. Hal ini berbeda dengan opini interpretatif, yaitu pendapat yang berupa interpretasi wartawan atas fakta. &lt;br /&gt;d. Asas praduga tak bersalah adalah prinsip tidak menghakimi seseorang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 4&lt;br /&gt;Wartawan Indonesia tidak membuat berita bohong, fitnah, sadis, dan cabul. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penafsiran &lt;br /&gt;a. Bohong berarti sesuatu yang sudah diketahui sebelumnya oleh wartawan sebagai hal yang tidak sesuai dengan fakta yang terjadi. &lt;br /&gt;b. Fitnah berarti tuduhan tanpa dasar yang dilakukan secara sengaja dengan niat buruk. &lt;br /&gt;c. Sadis berarti kejam dan tidak mengenal belas kasihan. &lt;br /&gt;d. Cabul berarti penggambaran tingkah laku secara erotis dengan foto, gambar, suara, grafis atau tulisan yang semata-mata untuk membangkitkan nafsu birahi. &lt;br /&gt;e. Dalam penyiaran gambar dan suara dari arsip, wartawan mencantumkan waktu pengambilan gambar dan suara. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pasal 5&lt;br /&gt;Wartawan Indonesia tidak menyebutkan dan menyiarkan identitas korban kejahatan susila dan tidak menyebutkan identitas anak yang menjadi pelaku kejahatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penafsiran &lt;br /&gt;a. Identitas adalah semua data dan informasi yang menyangkut diri seseorang yang memudahkan orang lain untuk melacak. &lt;br /&gt;b. Anak adalah seorang yang berusia kurang dari 16 tahun dan belum menikah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 6&lt;br /&gt;Wartawan Indonesia tidak menyalahgunakan profesi dan tidak menerima suap. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Penafsiran &lt;br /&gt;a. Menyalahgunakan profesi adalah segala tindakan yang mengambil keuntungan pribadi atas informasi yang diperoleh saat bertugas sebelum informasi tersebut menjadi pengetahuan umum. &lt;br /&gt;b. Suap adalah segala pemberian dalam bentuk uang, benda atau fasilitas dari pihak lain yang mempengaruhi independensi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 7&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wartawan Indonesia memiliki hak tolak untuk melindungi narasumber yang tidak bersedia diketahui identitas maupun keberadaannya, menghargai ketentuan embargo, informasi latar belakang, dan “off the record” sesuai dengan kesepakatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penafsiran &lt;br /&gt;a. Hak tolak adalak hak untuk tidak mengungkapkan identitas dan keberadaan narasumber demi keamanan narasumber dan keluarganya. &lt;br /&gt;b. Embargo adalah penundaan pemuatan atau penyiaran berita sesuai dengan permintaan narasumber.&lt;br /&gt;c. Informasi latar belakang adalah segala informasi atau data dari narasumber yang disiarkan atau diberitakan tanpa menyebutkan narasumbernya. &lt;br /&gt;d. “Off the record” adalah segala informasi atau data dari narasumber yang tidak boleh disiarkan atau diberitakan. &lt;br /&gt;Pasal 8&lt;br /&gt;Wartawan Indonesia tidak menulis atau menyiarkan berita berdasarkan prasangka atau diskriminasi terhadap seseorang atas dasar perbedaan suku, ras, warna kulit, agama, jenis kelamin, dan bahasa serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa atau cacat jasmani. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penafsiran &lt;br /&gt;a. Prasangka adalah anggapan yang kurang baik mengenai sesuatu sebelum mengetahui secara jelas. &lt;br /&gt;b. Diskriminasi adalah pembedaan perlakuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 9&lt;br /&gt;Wartawan Indonesia menghormati hak narasumber tentang kehidupan pribadinya, kecuali untuk kepentingan publik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penafsiran &lt;br /&gt;a. Menghormati hak narasumber adalah sikap menahan diri dan berhati-hati. &lt;br /&gt;b. Kehidupan pribadi adalah segala segi kehidupan seseorang dan keluarganya selain yang terkait dengan kepentingan publik. &lt;br /&gt;Pasal 10&lt;br /&gt;Wartawan Indonesia segera mencabut, meralat, dan memperbaiki berita yang keliru dan tidak akurat disertai dengan permintaan maaf kepada pembaca, pendengar, dan atau pemirsa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penafsiran &lt;br /&gt;a. Segera berarti tindakan dalam waktu secepat mungkin, baik karena ada maupun tidak ada teguran dari pihak luar. &lt;br /&gt;b. Permintaan maaf disampaikan apabila kesalahan terkait dengan substansi pokok. &lt;br /&gt;Pasal 11&lt;br /&gt;Wartawan Indonesia melayani hak jawab dan hak koreksi secara proporsional. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penafsiran &lt;br /&gt;a. Hak jawab adalah hak seseorang atau sekelompok orang untuk memberikan tanggapan atau sanggahan terhadap pemberitaan berupa fakta yang merugikan nama baiknya. &lt;br /&gt;b. Hak koreksi adalah hak setiap orang untuk membetulkan kekeliruan informasi yang diberitakan oleh pers, baik tentang dirinya maupun tentang orang lain. &lt;br /&gt;c. Proporsional berarti setara dengan bagian berita yang perlu diperbaiki. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penilaian akhir atas pelanggaran kode etik jurnalistik dilakukan Dewan Pers. &lt;br /&gt;Sanksi atas pelanggaran kode etik jurnalistik dilakukan oleh organisasi wartawan dan atau perusahaan pers.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jakarta, Selasa, 14 Maret 2006 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami atas nama organisasi wartawan dan organisasi perusahaan pers Indonesia: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Aliansi Jurnalis Independen (AJI)-Abdul Manan &lt;br /&gt;2. Aliansi Wartawan Independen (AWI)-Alex Sutejo &lt;br /&gt;3. Asosiasi Televisi Swasta Indonesia (ATVSI)-Uni Z Lubis &lt;br /&gt;4. Asosiasi Wartawan Demokrasi Indonesia (AWDI)-OK. Syahyan Budiwahyu &lt;br /&gt;5. Asosiasi Wartawan Kota (AWK)-Dasmir Ali Malayoe &lt;br /&gt;6. Federasi Serikat Pewarta-Masfendi &lt;br /&gt;7. Gabungan Wartawan Indonesia (GWI)-Fowa’a Hia &lt;br /&gt;8. Himpunan Penulis dan Wartawan Indonesia (HIPWI)-RE Hermawan S &lt;br /&gt;9. Himpunan Insan Pers Seluruh Indonesia (HIPSI)-Syahril &lt;br /&gt;10. Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI)-Bekti Nugroho &lt;br /&gt;11. Ikatan Jurnalis Penegak Harkat dan Martabat Bangsa (IJAB HAMBA)-Boyke M. Nainggolan &lt;br /&gt;12. Ikatan Pers dan Penulis Indonesia (IPPI)-Kasmarios SmHk &lt;br /&gt;13. Kesatuan Wartawan Demokrasi Indonesia (KEWADI)-M. Suprapto &lt;br /&gt;14. Komite Wartawan Reformasi Indonesia (KWRI)-Sakata Barus &lt;br /&gt;15. Komite Wartawan Indonesia (KWI)-Herman Sanggam &lt;br /&gt;16. Komite Nasional Wartawan Indonesia (KOMNAS-WI)-A.M. Syarifuddin &lt;br /&gt;17. Komite Wartawan Pelacak Profesional Indonesia (KOWAPPI)-Hans Max Kawengian &lt;br /&gt;18. Korp Wartawan Republik Indonesia (KOWRI)-Hasnul Amar &lt;br /&gt;19. Perhimpunan Jurnalis Indonesia (PJI)-Ismed hasan Potro &lt;br /&gt;20. Persatuan Wartawan Indonesia (PWI)-Wina Armada Sukardi &lt;br /&gt;21. Persatuan Wartawan Pelacak Indonesia (PEWARPI)-Andi A. Mallarangan &lt;br /&gt;22. Persatuan Wartawan Reaksi Cepat Pelacak Kasus (PWRCPK)-Jaja Suparja Ramli &lt;br /&gt;23. Persatuan Wartawan Independen Reformasi Indonesia (PWIRI)-Ramses Ramona S. &lt;br /&gt;24. Perkumpulan Jurnalis Nasrani Indonesia (PJNI)-Ev. Robinson Togap Siagian- &lt;br /&gt;25. Persatuan Wartawan Nasional Indonesia (PWNI)-Rusli &lt;br /&gt;26. Serikat Penerbit Suratkabar (SPS) Pusat- Mahtum Mastoem &lt;br /&gt;27. Serikat Pers Reformasi Nasional (SEPERNAS)-Laode Hazirun &lt;br /&gt;28. Serikat Wartawan Indonesia (SWI)-Daniel Chandra &lt;br /&gt;29. Serikat Wartawan Independen Indonesia (SWII)-Gunarso Kusumodiningrat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5338564852171294533-860693452189067045?l=pnb2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5338564852171294533/posts/default/860693452189067045'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5338564852171294533/posts/default/860693452189067045'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pnb2008.blogspot.com/2008/05/thursday-may-08-2008-kode-etik.html' title='[Thursday, May 08, 2008] KODE ETIK JURNALISTIK'/><author><name>iwa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5338564852171294533.post-3694999299009734341</id><published>2008-05-08T07:00:00.000-07:00</published><updated>2008-05-08T07:01:51.288-07:00</updated><title type='text'>[Thursday, May 08, 2008] Karakteristik Berita</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Asep Setiawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendahuluan&lt;br /&gt;Dunia jurnalistik mendapatkan momentum baru pada era reformasi di Indonesia saat ini. Ketika Orde Baru berkuasa, banyak fakta disembunyikan sehingga pers yang berperan sebagai penyambung lidah masyarakat tidak mendapatkan informasi yang akurat, benar dan lengkap. Kehidupan pers banyak dipengaruhi oleh kekuasaan pemerintah sehingga berkali-kali terjadi pembredelan koran atau majalah.&lt;br /&gt;Pada saat era reformasi bergulir, peranan pers menjadi penting. Dunia jurnalistik hidup kembali. Demikian pula praktisi jurnalistik baik wartawan maupun unsur pendukungnya menghirup udara segar. Isyarat hidupnya kembali dunia kuli tinta (sekarang disebut kuli disket) ini terlihat dari banyaknya penerbitan yang muncul. Majalah, tabloid dan surat kabar baik harian maupun mingguan tumbuh bagaikan jamur.&lt;br /&gt;Pada umumnya di bidang penerbitan surat kabar misalnya, terdapat empat  bagian penting yakni bagian editorial, sirkulasi, periklanan dan percetakan. Kebutuhan akan barang dan jasa pendukung kehidupan jurnalistik ini menyebabkan bidang ini beralih menjadi sebuah industri. Hal itu disebabkan bidang persuratkabaran, televisi maupun radio membutuhkan berbagai peralatan yang mahal harganya dan juga kertas maupun mesin percetakan yang saat ini sudah sampai pada teknologi cetak jarak jauh.&lt;br /&gt;Makalah singkat ini akan menyinggung salah satu bagian penting dari dunia pers yakni seksi editorial yang tugasnya memproduksi dan menghasilan berita, features, analisa dan opini. Bagian pertama ini akan membahas karakteristik umum sebuah berita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Definisi News&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;News (berita) mengandung kata new yang berarti baru. Secara singkat sebuah berita adalah sesuatu yang baru yang diketengahkan bagi khalayak pembaca atau pendengar. Dengan kata lain, news adalah apa yang surat kabar atau majalah cetak atau apa yang para penyiar beberkan.&lt;br /&gt; Menurut Brian S Brook dkk (1985), berita terdiri dari unsur fakta. Namun tidak setiap fakta adalah berita. Berita biasanya menyangkut manusia tetapi tidak setiap orang bernilai berita. Berita, demikian Brian S Brook, adalah tentang apa yang terjadi di dunia namun hanya serpihan kecil fakta yang dilaporkan.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kriteria Tradisional News&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Berbagai pendapat dilontarkan untuk mengidentifikasi apa yang disebut berita. Sedikitnya ada tujuh poin kriteria yang disebut berita:&lt;br /&gt;1. Audience.&lt;br /&gt;Seperti halnya kepingan salju, tidak ada dua pendengar/pembaca yang benar-benar sama. Oleh karena itu sebuah berita mungkin lebih berarti bagi seseorang daripada yang lainnya. Oleh karena itu perlu dipikirkan ketika menulis siapa yang akan membaca atau mendengar apa yang kita tulis. Di sini seyogyanya penulis mempertimbangkan aspek kultural, sosial dan ekonomi sebuah masyarakat pembaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Impact &lt;br /&gt;Seberapa banyak orang yang terpengaruh berita dan seberapa serius mereka terpengaruh akan menentukan pentingnya berita. Oleh sebab itulah akibat dari berita itulah yang mungkin bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Proximity&lt;br /&gt;Biasanya sesuatu kejadian bisa menjadi berita lebih besar jika terjadi di seputar Anda daripada peristiwa yang jaraknya lebih dari 1000 km dari Anda sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Timeliness&lt;br /&gt;Berita hari ini akan basi pada esok hari.Namun karena  cepatnya pelaporan berita maka surat kabar dan majalah lebih mengkonsentrasikan mengenai berita bagaimana dan mengapa sesuatu terjadi dan kurang memberi tempat kepada apa yang telah terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Prominence&lt;br /&gt;Nama tidak selalu mebuat berita. Pertunjukkan rodeo dan lomba memotong batang kayu mungkin kurang menarik perhatian orang. Namun jika Ronald Reagan melakukannya maka itu menjadi berita. Ia masih berusia 70 tahun dan menjadi presiden AS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Unusualness&lt;br /&gt;Hal tidak biasa membuat berita. Pada abad ke-19 ada ungkapan "anjing menggigit manusia bukan berita tetapi manusia menggigit anjing, itulah berita. Saat ini resep lama tersebut masih bertuah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Conflict&lt;br /&gt;Sebagian besar wartawan menghabiskan banyak waktu untuk meliput konflik apakah itu perang, pertarungan politisi, kejahatan atau olahraga. Konflik membuat berita menjadi menarik dan keingintahuan orang akan akhir cerita mendorong orang membaca atau mendengar berita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penutup&lt;br /&gt;Dari paparan singkat tentang karakteristik yang membuat news itu maka nilai sebuah berita yang layak dibaca atau diketahui pembaca atau pendengar tergantung dari faktor-faktor tersebut. Untuk menentukan mana berita yang akan menjadi berita utama atau berita biasa tergantung pertimbangan aspek tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar Pustaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Brooks, S. Brian et.al, News Reporting and Writing. New York. St Martin's Press, &lt;br /&gt;1985.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hester, Albert L  dan Wai Jan J To, Pedoman untuk Wartawan. Jakarta: Yayasan &lt;br /&gt;Obor Indonesia, 1997&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Graber, Doris A, Processing the News: How People Tame the Information Tide. &lt;br /&gt;New York: Longman, 1988.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Djurnalistik dalam Praktek: Bagian I, Berita. Jakarta: Jajasan Kantor Berita &lt;br /&gt;Nasional Antara, 1959.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metzler, Ken, Newsgathering. Englewood Cliffs, N.J.: Prentice-Hall, 1986. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5338564852171294533-3694999299009734341?l=pnb2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5338564852171294533/posts/default/3694999299009734341'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5338564852171294533/posts/default/3694999299009734341'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pnb2008.blogspot.com/2008/05/thursday-may-08-2008-karakteristik.html' title='[Thursday, May 08, 2008] Karakteristik Berita'/><author><name>iwa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5338564852171294533.post-6540232924129473811</id><published>2008-05-08T06:58:00.000-07:00</published><updated>2008-05-08T07:00:19.220-07:00</updated><title type='text'>[Thursday, May 08, 2008] PREMANISME WARTAWAN, ADAKAH?</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Adrianus Meliala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tindakan main hakim sendiri, menerabas prosedur demi kepentingan sepihak atau kecenderungan memaksakan pendapat pada orang lain, dewasa ini, cenderung dilihat sebagai perwujudan premanisme. Inilah semacam ‘isme’ baru yang lahir sebagai kontraksi atas pertarungan antara mekanisme pasar (yang pada dasarnya adalah hukum rimba) dan mekanisme normatif (bersandar pada aturan). &lt;br /&gt; Bila ‘preman’ adalah pelaku tradisional premanisme, maka kini premanisme telah bermetamorfosa dalam berbagai bentuk. Jelasnya, hal itu dapat dilakukan siapa saja. Tidak ada pihak yang benar-benar kebal dari penyakit ini. Alih-alih tak disukai, kini konon semakin banyak penggemarnya. Mengapa demikian? Isme baru ini tak jarang, memang ampuh, efisien dan efektif dalam menyelesaikan masalah. &lt;br /&gt; Wartawan, konon, kini semakin banyak pula yang doyan premanisme. Tak percaya? Saya perlihatkan beberapa ilustrasi:&lt;br /&gt; Ilmu jurnalistik tidak pernah melarang berapa kali orang perlu melakukan klarifikasi. Demi akurasi, logikanya, semakin banyak mengadakan klarifikasi akan semakin baik. Kini, dengan berbagai dalih, klarifikasi berita cenderung dihindari. Karena dikhawatirkan harus mengulang kerja, terpaksa mencari bahan baru, harus mengulang interview, harus mengubah angle berita atau bahkan harus mengubah konsep iklan, maka klarifikasi cenderung bukan kegiatan yang populer di mata wartawan. Soal akibatnya pada orang-orang yang terkait dengan berita yang harusnya diklarifikasi, tidak pernah diperhitungkan. Apa itu bukan premanisme namanya?&lt;br /&gt; Contoh lain, wartawan yang memiliki informasi bahwa penyidik kepolisian atau kejaksaan tengah merencanakan “membidik” seseorang dengan sangkaan tertentu lalu buru-buru menghubungi orang tersebut. Kalau hanya sekadar membocorkan informasi dengan motif imbalan uang, itu relatif tak menjadi masalah. Yang repot adalah, wartawan kemudian ikut-ikut menjadi penyidik partikelir dengan cara menekan orang tersebut pula. Atau mengancam hendak memberitakan bila tidak diberi uang.&lt;br /&gt; Yang lebih kasar lagi adalah, tindakan orang-orang yang mengaku jurnalis dan datang menemui pejabat guna, tanpa tedeng aling-aling, meminta uang dengan beribu alasan. Celakanya lagi, jika tidak diberi, lalu memaksa dan marah-marah. Lebih jauh dari itu, ada pula yang mengancam dan bahkan melakukan kekerasan.&lt;br /&gt; Tiga contoh tersebut saya rangkum dari beberapa kasus yang pernah saya dengar dan baca beberapa waktu yang lalu. Artinya, besaran fakta yang sebenarnya tidak pernah diketahui. Kemungkinan besar, pada kenyataannya, praktek-praktek tersebut jauh lebih banyak terjadi namun tidak diberitakan. Itu artinya, fenomena premanisme di kalangan wartawan itu jauh lebih serius dari yang kita duga.&lt;br /&gt; Hal ini, seperti biasa, dapat dikomentari dari berbagai segi. Dewan pers, misalnya, akan bicara dari sisi sejauh mana hal itu melanggar Kode Etik Jurnalistik. Para pengamat politik, di pihak lain, mungkin mengomentarinya dari sudut pers sebagai pilar demokrasi yang membela kepentingan masyarakat sipil.&lt;br /&gt; Kriminologi, lain lagi. Selain kriminologi telah mengawalinya melalui pengaitan konsep premanisme dan kewartawanan, kriminologi lebih jauh memandangnya sebagai kombinasi kejahatan korporasi dan profesional. Hal mana menjadikan penanggulangannya jauh lebih problematis. &lt;br /&gt; Disadari bahwa tak ada wartawan tanpa lembaga yang namanya media massa. Keduanya saling terkait dan saling mempengaruhi. Alhasil, ketika ada wartawan suatu media massa yang melakukan praktek pemerasan, praktek pengrusakan nama baik ataupun praktek-praktek lain yang merugikan citra wartawan, kita bisa bertanya seberapa jauh kontribusi media dari si wartawan tersebut. Jangan-jangan, perilaku tersebut direstui mengingat media sebagai korporasi tidak mampu membayar baik wartawannya.&lt;br /&gt;Selain itu, wartawan juga melakukan kejahatan profesional mengingat yang bersangkutan telah menerabas berbagai hal, mulai dari kode etik profesinya sendiri, aturan main asosiasi kewartawanan hingga hukum pidana. &lt;br /&gt;Pelajaran yang bisa diambil adalah, bila premanisme wartawan hendak diberantas, implikasikan perusahaan tempat si wartawan bekerja. Perusahaan hendaknya bertanggungjawab atas perilaku karyawannya. Selanjutnya, aktifkan peradilan profesi bagi mereka. Sejauh ini, kita belum banyak mendengar hal itu dilakukanoleh asosiasi profesi kewartawanan.&lt;br /&gt; Bagaimana dengan wartawan bodrek? Karena wartawan jenis ini sebenarnya tak punya institusi, maka bagaimana hendak mengatakan ada konteks kejahatan korporasi dalam hal ini. Sekaligus, karena wartawan ini tak terdaftar di asosiasi profesi seperti Persatuan Wartawan Indonesia, mereka jelas bukan professional di bidang kewartawanan. Singkatnya, bila wartawan jenis ini melakukan premanisme, hukum pidana adalah saluran hukum yang paling tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5338564852171294533-6540232924129473811?l=pnb2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5338564852171294533/posts/default/6540232924129473811'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5338564852171294533/posts/default/6540232924129473811'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pnb2008.blogspot.com/2008/05/thursday-may-08-2008-premanisme.html' title='[Thursday, May 08, 2008] PREMANISME WARTAWAN, ADAKAH?'/><author><name>iwa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5338564852171294533.post-6798347310070929547</id><published>2008-05-08T06:57:00.000-07:00</published><updated>2008-05-08T06:58:39.424-07:00</updated><title type='text'>[Thursday, 08 May 2008] Editing Tulisan</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PROSES KERJA JURNALISTIK&lt;br /&gt;1. Rapat Redaksi&lt;br /&gt;2. Repotase&lt;br /&gt;3. Penulisan Berita&lt;br /&gt;4. EDITING: proses memeriksa kembali naskah/tulisan untuk menyempurnakan tulisan, yang menyangkut ejaan, gaya bahasa, kelengkapan data, efektivitas kalimat, dan sebagainya. Pelaku disebut editor atau redaktur&lt;br /&gt;5. Setting dan Lay Out: proses pemilihan Setting merupakan proses pengetikan naskah yang menyangkut pemilihan jenis dan ukuran huruf. Sedangkan layout merupakan penanganan tata letak dan penampilan fisik penerbitan secara umum. Setting dan layout merupakan tahap akhir dari proses kerja jurnalistik. Setelah proses ini selesai, naskah dibawa ke percetakan untuk dicetak sesuai oplah yang ditentukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PROSES EDITING (MENYUNTING NASKAH)&lt;br /&gt;A. PENYUNTINGAN SECARA REDAKSIONAL Editor memeriksa tiap kata dan kalimat agar logis, mudah dipahami, dan tidak rancu (benar ejaan, punya arti, dan enak dibaca).&lt;br /&gt;B. PENYUNTINGAN SECARA SUBSTANSIAL  Editor memperhatikan dat dan fakta agar tetap akurat dan benar. Isi tulisan mudah dimengerti. Sistematika harus tetap terjaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENYUNTING BUKAN SEKADAR MEMOTONG TULISAN AGAR PAS DENGAN SPACE, TAPI JUGA MEMBUAT TULISAN YANG ENAK DIBACA DAN MENARIK, AND TIDAK MEMPUNYAI KESALAHAN FAKTUAL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEGIATAN EDITING&lt;br /&gt;1. Memperbaiki kesalahan-kesalahan faktual.&lt;br /&gt;2. Menghindari kontradiksi dan mengedit berita untuk diperbaiki.&lt;br /&gt;3. Memperbaiki keaslahan ejaan (tanda baca, tatabahasa, angka, nama, dan alamat).&lt;br /&gt;4. Menyesuaikan gaya bahasa dengan gaya surat kabar bersangkutan.&lt;br /&gt;5. Mengetatkan tulisan (meringkas beberapa kalimat menjadi satu atau dua kalimat yang memiliki kejelasan makna serupa).&lt;br /&gt;6. Menghindari dari unsure-unsur penghinaan, arti ganda, dan tulisan yang memeuakkan (bad taste).&lt;br /&gt;7. Melengkapi tulisan dengan bahan-bahan tipografi (missal, anak judul/subjudul).&lt;br /&gt;8. Menulis judul yang menarik.&lt;br /&gt;9. Menulis keterangan gambar/caption untuk gambar/foto dan pekerjaan lain yang bersangkutan dengan cerita yang disunting.&lt;br /&gt;10. Menelaah kembali hasil tulisan yang telah dicetak, mungkin masih terdapat kesalahan secara redaksional dan substansial.  &lt;br /&gt;FOKUS EDITOR&lt;br /&gt;1. Sadar akan latar belakang  para pembaca (umur, taraf hidup, dan gaya hidup) sehingga naskah diharapkan sesuai dengan latar belakang itu.&lt;br /&gt;2. Tegas&lt;br /&gt;3. Memperbaiki tulisan tanpa merusak cara penulis memaparkan pendapatnya.&lt;br /&gt;4. Haiti-hati dengan iklan terselubung yang masuk dalam tulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JIWA REDAKTUR &lt;br /&gt;1. Memiliki wawasan luas  ilmu jurnalistik.&lt;br /&gt;2. Berkepala dingin, sanggup bekerja dalam suasana tergesa-gesa dan rumit, tanpa menderita perasaan tertekan.&lt;br /&gt;3. Cermat, hati-hati, tekun, dan tegas.&lt;br /&gt;4. elihat sesuatu dari sudut pandang pembaca (berorientasi pada kepentingan pembaca)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PRINSISP DASAR BAHASA JURNALISTIK/PERS&lt;br /&gt; Fungsi  bahasa komunikasi massa  harus jelas dan mudah dibaca dengan tingkat ukuran intelektual minimal. Menurut JS Badudu (1988) bahasa jurnalistik memiliki sifat-sifat khas di antaranya:&lt;br /&gt;1. Singkat, artinya bahasa jurnalistik harus menghindari penjelasan yang panjang dan bertele-tele.&lt;br /&gt;2. Padat, artinya bahasa jurnalistik yang singkat itu sudah mampu menyampaikan informasi yang lengkap. Menerapkan prinsip 5 wh, membuang kata-kata mubazir dan menerapkan ekonomi kata.&lt;br /&gt;3. Sederhana, memilih kalimat tunggal dan sederhana, bukan kalimat majemuk yang panjang, rumit, dan kompleks. Kalimat yang efektif, praktis, sederhana pemakaian kalimatnya, tidak berlebihan pengungkapannya (bombastis)&lt;br /&gt;4. Lugas, artinya bahasa jurnalistik mampu menyampaikan pengertian atau makna informasi secara langsung dengan menghindari bahasa yang berbunga-bunga .&lt;br /&gt;5. Menarik, artinya dengan menggunakan pilihan kata yang masih hidup, tumbuh, dan berkembang. Menghindari kata-kata yang sudah mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat empat prinsip retorika tekstual   yang dikemukakan Leech, yaitu prinsip prosesibilitas, prinsip kejelasan, prinsip ekonomi, dan prinsip ekspresifitas.  &lt;br /&gt;1. Prinsip prosesibilitas, menganjurkan agar teks disajikan sedemikian rupa sehingga mudah bagi pembaca untuk memahami pesan pada waktunya. Dalam proses memahami pesan penulis harus menentukan (a) bagaimana membagi pesan-pesan menjadi satuan; (b) bagaimana tingkat subordinasi dan seberapa pentingnya masing-masing satuan, dan (c) bagaimana mengurutkan satuan-satuan pesan itu. Ketiga macam itu harus saling berkaitan satu sama lain. &lt;br /&gt;Penyusunan bahasa jurnalistik dalam surat kabar berbahasa Indonesia, yang menjadi fakta-fakta harus cepat dipahami oleh pembaca dalam kondisi apa pun agar tidak melanggar prinsip prosesibilitas ini. Bahasa jurnalistik Indonesia disusun dengan struktur sintaksis yang penting mendahului struktur sintaksis yang tidak penting &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan contoh berikut:&lt;br /&gt;Pangdam VIII/Trikora Mayjen TNI Amir Sembiring mengeluarkan perintah tembak di tempat, bila masyarakat yang membawa senjata tajam, melawan serta tidak menuruti permintaan untuk menyerahkannya. Jadi petugas akan meminta dengan baik. Namun jika bersikeras dan melawan, terpaksa akan ditembak di tempat sesuai dengan prosedur (Kompas, 24/1/99)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh (1) terdiri dari dua kalimat, yaitu kalimat pertama menyatakan pesan penting dan kalimat kedua menerangkan pesan kalimat pertama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Prinsip kejelasan, yaitu agar teks itu mudah dipahami. Prinsip ini menganjurkan agar bahasa teks menghindari ketaksaan (ambiguity). Teks yang tidak mengandung ketaksaan akan dengan mudah dan cepat dipahami.&lt;br /&gt;Perhatikan Contoh:&lt;br /&gt;(1) Ketika mengendarai mobil dari rumah menuju kantornya di kawasan Sudirman, seorang pegawai bank, Deysi Dasuki, sempat tertegun mendengar berita radio. Radio swasta itu mengumumkan bahwa kawasan Semanggi sudah penuh dengan mahasiswa dan suasananya sangat mencekam (Republika, 24/11/98)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) Wahyudi menjelaskan, negara rugi karena pembajak buku tidak membayar pajak penjualan (PPN) dan pajak penghasilan (PPH). Juga pengarang, karena mereka tidak menerima royalti atas karya ciptaannya. (Media Indonesia, 20/4/1997).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh (3) dan (4) tidak mengandung ketaksaan. Setiap pembaca akan menangkap pesan yang sama atas teks di atas. Hal ini disebabkan teks tersebut dikonstruksi oleh kata-kata yang mengandung kata harfiah, bukan kata-kata metaforis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Prinsip ekonomi. Prinsip agar teks itu singkat tanpa harus merusak dan mereduksi pesan. &lt;br /&gt;Ketua DPP PPP Drs. Zarkasih Noer menyatakan, segala bentuk dan usaha untuk menghindari disintegrasi bangsa dari mana pun atau siapa pun perlu disambut baik (Suara Pembaruan, 21/12/98&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Prinsip ekspresivitas. Prinsip ini dapat pula disebut prinsip ikonisitas. Prinsip ini menganjurkan agar teks dikonstruksi selaras dengan aspek-aspek pesan. Dalam wacana jurnalistik, pesan bersifat kausalitas dipaparkan menurut struktur pesannya, yaitu sebab dikemukakan terlebih dahulu baru dikemukakan akibatnya. Demikian pula bila ada peristiwa yang terjadi berturut-turut, maka peristiwa yang terjadi lebih dulu akan dipaparkan lebih dulu dan peristiwa yang terjadi kemudian dipaparkan kemudian.&lt;br /&gt; Dalam situasi bangsa yang sedang kritis dan berada di persimpangan jalan, karena adanya benturan ide maupun paham politik, diperlukan adanya dialog nasional. “Dialog diperlukan untuk mengubur masa lalu, dan untuk start ke masa depan”. Tutur Prof. Dr. Nurcholis Madjid kepada Kompas di kediamannya di Jakarta Rabu (23/12) (Kompas, 24/12/98).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada contoh tampak bahwa kalimat pertama menyatakan sebab dan kalimat kedua mendatangkan akibat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemakaian Kata, Kalimat dan Alinea&lt;br /&gt; Bahasa jurnalistik juga mengikuti kaidah bahasa Indonesia baku. Namun pemakaian bahasa jurnalistik lebih menekankan pada daya kekomunikatifannya. Para pembelajar BIPA tingkat lanjut dapat mempotensikan penggunaan bahasa Indonesia ragam jurnalistik dengan beberapa usaha.&lt;br /&gt;1. Pemakaian kata-kata yang bernas. Kata merupakan modal dasar dalam menulis. Semakin banyak kosakata yang dikuasai seseorang, semakin banyak pula gagasan yang dikuasainya dan sanggup diungkapkannya.&lt;br /&gt;Dalam penggunaan kata, penulis yang menggunakan ragam BI Jurnalistik diperhadapkan pada dua persoalan yaitu ketepatan dan kesesuaian pilihan kata. Ketepatan mempersoalkan apakah pilihan kata yang dipakai sudah setepat-tepatnya, sehingga tidak menimbulkan interpretasi yang berlainan antara penulis dan pembaca. Sedangkan kesesuaian mempersoalkan pemakaian kata yang tidak merusak wacana.&lt;br /&gt;2. Penggunaan kalimat efektif. Kalimat dikatakan efektif bila mampu membuat proses penyampaian dan penerimaan itu berlangsung sempurna. Kalimat efektif mampu membuat isi atau maksud yang disampaikan itu tergambar lengkap dalam pikiran si pembaca, persis apa yang ditulis. Keefektifan kalimat ditunjang antara lain oleh keteraturan struktur atau pola kalimat. Selain polanya harus benar, kalimat itu harus pula mempunyai tenaga yang menarik.&lt;br /&gt;3. Penggunaan alinea/paragraf yang kompak. Alinea merupakan suatu kesatuan pikiran, suatu kesatuan yang lebih tinggi atau lebih luas dari kalimat. Setidaknya dalam satu alinea terdapat satu gagasan pokok dan beberapa gagasan penjelas.  Pembuatan alinea bertujuan memudahkan pengertian dan pemahaman dengan memisahkan suatu tema dari tema yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5338564852171294533-6798347310070929547?l=pnb2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5338564852171294533/posts/default/6798347310070929547'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5338564852171294533/posts/default/6798347310070929547'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pnb2008.blogspot.com/2008/05/thursday-08-may-2008-editing-tulisan.html' title='[Thursday, 08 May 2008] Editing Tulisan'/><author><name>iwa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5338564852171294533.post-1814040315597198169</id><published>2008-04-19T06:32:00.000-07:00</published><updated>2008-04-19T07:56:07.345-07:00</updated><title type='text'>[Sabtu 19 April 2008] Berita vs Feature</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Berita: &lt;br /&gt;1. Ditulis dengan teknik melaporkan (to report) suatu peristiwa secara faktual. [Berita ditulis dengan gaya laporan yang sifatnya kaku, tegak lurus, ringkas, tegas]&lt;br /&gt;2. Berisi laporan peristiwa yang sifatnya aktual, faktual, objektif, benar, akurat. [Laporan fakta atau peristiwa pada berita bersifat to the point.] &lt;br /&gt;3. Bertujuan hanya memberi tahu atau menyampaikan informasi kepada khalayak (informatif). [Laporan berita hanya menyentuh wilayah kognitif audiens]&lt;br /&gt;4. Sangat terikat aktualitas. Berita adalah laporan tercepat peristiwa faktual- terkini, namun mudah basi (out of date). [Hanya jenis feature news (soft news) yang peliputan dan penyajiannya sangat terikat aktualitas. Pemuatan atau penyajian soft news biasanya digandengkan dengan straigt news.]&lt;br /&gt;5. Nama lengkap wartawan atau peliput biasanya tidak dicantumkan. Cukup dengan nama inisial (singkatan atau akronim). [Pada berita, nama lengkap wartawan tidak dicantumkan lebih banyak karena pertimbangan teknis jurnalistik dan alasan politik keamanan]&lt;br /&gt;6. Berita mencerminkan karya kolektif institusional suatu media massa. [Karena berita dianggap sebagai karya kolektif institusional, maka pada berita tidak terdapat hak cipta] &lt;br /&gt;7. Selalu mencantumkan baris tanggal (date line) pada teras berita (lead) &lt;br /&gt;8. Karena disajikan dengan pola piramida terbalik, maka berita dapat dipotong pada bagian bawah sesuai dengan keperluan editing tanpa mengubah dan mengganggu isinya. [Berita disusun dengan Skala prioritas, sangat penting (lead), penting (bridge, perangkai), cukup penting (body, tubuh berita), kurang penting (leg, kaki)] &lt;br /&gt;9. Ditulis dengan menggunakan judul yang dicetak tebal, tegak lurus, mengesankan format tegas (hard news). [Dalam tradisi penulisan berita, judul tegak lurus digunakan untuk berita format straight news] &lt;br /&gt;10. Disusun dengan menggunakan pola piramida terbalik dan umus 5W+1 H&lt;br /&gt;11. Ditulis dengan gaya bahasa standar jurnalistik yang sifatnya lurus, lugas, ringkas dan to the point.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Feature:&lt;br /&gt;1. Ditulis dengan teknik mengisahkan (to story) suatu situasi, peristiwa, atau keadaan secara faktual. [Feature ditulis dengan gaya menulis cerita pendek yang bersifat lentur, hidup, memikat]&lt;br /&gt;2. Berisi suatu situasi, keadaan, atau aspek kehidupan yang sifatnya faktual, objektif, benar, akurat. Cerita faktual pada feature menggunakan alur dan pemantik.&lt;br /&gt;3. Bertujuan memberi tahu atau menyampaikan informasi, tetapi sekaligus menghibur dan membangkitkan emosi kahalayak (informatif dan rekreatif). [Cerita feature tak hanya menyentuh kognitif, tetapi juga wilayah afektif]&lt;br /&gt;4. Tidak terikat aktualitas. Cerita feature bisa dipersiapkan, diliput, ditulis, dan disajikan kapan saja sesuai dengan kebutuhan. Tahan lama, awet.&lt;br /&gt;5. Nama lengkap wartawan atau reporter penulis cerita feature biasanya dicantumkan lengkap.&lt;br /&gt;6. Feature dicitrakan sebagai cerminan karya kreatif individual seorang wartawan atau reporter. [Pada cerita feature, terdapat hak cipta penulisnya]&lt;br /&gt;7. Tidak mencantumkan tanggal (date line) pada awal intro cerita atau paragraf pertama. [Sebagian media cetak, hanya mencantumkan nama tempat cerita feature terjadi (setting atau lokasi peristiwa)]&lt;br /&gt;8. Karena ditulis tak hanya berpola piramida terbalik, maka setiap bagian feature sama pentingnya satu sama lain sehingga pada bagian bawah tidak bisa dipotong begitu saja. [Untuk feature, semua bagian sama penting]&lt;br /&gt;9. Ditulis dengan menggunakan judul yang dicetak miring (italics), tipis, mengesankan informal dan santai (soft news). [judul dicetak miring digunakan untuk format soft news dan feature]&lt;br /&gt;10. Tidak perlu menggunakan pola piramida terbalik. Bisa juga dengan pola induktif, kronologis, logis, topikal, atau spasial. [Meski tidak menggunakan pola piramida terbalik, setiap unsur 5W+1 H, harus terdapat dalam karya feature]&lt;br /&gt;11. Ditulis dengan gaya bahasa jurnalistik sastra, merujuk pada gaya penulisan fiksi cerita pendek yang hidup, segar, lincah, fleksibel, meski bahan bakunya adalah fakta. [Karena ditulis dengan teknik mengisahkan (to story), teknik menulis cerita pendek, maka karya cerita feature bersifat naratif ekspresif. Sedangkan berita lebih banyak bersifat eksplanatif dan produktif.]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5338564852171294533-1814040315597198169?l=pnb2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5338564852171294533/posts/default/1814040315597198169'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5338564852171294533/posts/default/1814040315597198169'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pnb2008.blogspot.com/2008/04/berita-vs-feature.html' title='[Sabtu 19 April 2008] Berita vs Feature'/><author><name>iwa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5338564852171294533.post-3267401407478573432</id><published>2008-04-11T19:33:00.000-07:00</published><updated>2008-04-11T19:34:56.946-07:00</updated><title type='text'>[Sabtu; 12 April 2008] Membuat Tulisan Enak Dibaca, Tidak Mempunyai Kesalahan Faktual (Press Claar)</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;KEGIATAN MENULIS BERITA TERMASUK&lt;br /&gt;1. Memperbaiki kesalahan-kesalahan faktual.&lt;br /&gt;2. Menghindari kontradiksi dan mengedit berita untuk diperbaiki.&lt;br /&gt;3. Memperbaiki kesalahan ejaan (tanda baca, tatabahasa, angka, nama, dan alamat).&lt;br /&gt;4. Menyesuaikan gaya bahasa dengan gaya surat kabar bersangkutan.&lt;br /&gt;5. Mengetatkan tulisan (meringkas beberapa kalimat menjadi satu atau dua kalimat yang memiliki kejelasan makna serupa).&lt;br /&gt;6. Menghindari dari unsur-unsur penghinaan, arti ganda, dan tulisan yang memuakkan (bad taste).&lt;br /&gt;7. Melengkapi tulisan dengan bahan-bahan tambahan (misal, anak judul/subjudul).&lt;br /&gt;8. Menulis judul yang menarik.&lt;br /&gt;9. Menulis keterangan gambar/caption untuk gambar/foto dan pekerjaan lain yang bersangkutan dengan cerita yang ditulis.&lt;br /&gt;10. Menelaah kembali hasil tulisan mungkin masih terdapat kesalahan redaksional dan substansial.  &lt;br /&gt;FOKUS WARTAWAN&lt;br /&gt;1. Sadar latar belakang  pembaca (umur, taraf hidup dan gaya hidup) sehingga naskah diharapkan sesuai latar belakang itu.&lt;br /&gt;2. Tegas&lt;br /&gt;3. Memperbaiki tulisan tanpa merusak cara penulis memaparkan pendapatnya.&lt;br /&gt;4. Hati-hati dengan iklan terselubung yang masuk dalam tulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JIWA WARTAWAN&lt;br /&gt;1. Memiliki wawasan luas  ilmu jurnalistik.&lt;br /&gt;2. Berkepala dingin, sanggup bekerja dalam suasana tergesa-gesa dan rumit, tanpa menderita perasaan tertekan.&lt;br /&gt;3. Cermat, hati-hati, tekun, dan tegas.&lt;br /&gt;4. Melihat sesuatu dari sudut pandang pembaca (berorientasi pada kepentingan pembaca)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5338564852171294533-3267401407478573432?l=pnb2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5338564852171294533/posts/default/3267401407478573432'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5338564852171294533/posts/default/3267401407478573432'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pnb2008.blogspot.com/2008/04/sabtu-12-april-2008-membuat-tulisan.html' title='[Sabtu; 12 April 2008] Membuat Tulisan Enak Dibaca, Tidak Mempunyai Kesalahan Faktual (Press Claar)'/><author><name>iwa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5338564852171294533.post-3596630610744748788</id><published>2008-04-06T11:16:00.001-07:00</published><updated>2008-04-06T11:16:35.117-07:00</updated><title type='text'>[Senin 7 April 2008] Dijaga Ketat, Sebrat Menang, Pilkades di Balecatur Berlangsung Lancar</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;SLEMAN – Hj Sebrat Haryanti berhasil memenangi pemilihan kepala desa (pilkades) Balecatur yang digelar Sabtu (5/4). Sebrat mengalahkan empat calon kepala desa (cakades) lainnya yakni Joko Riyanto (incumbent), Usmantoro, Waluyo, dan drg Indriyatun.&lt;br /&gt;Pelaksanaan pilkades di Balecatur berlangsung dalam pengamanan ketat. Sejumlah aparat polisi dari Polres Sleman dan Brimob diterjunkan mengamankan 20 tempat pemungutan suara (TPS) di desa. &lt;br /&gt;Mereka juga dibantu anggota TNI dan puluhan personel dari Dinas Pol PP dan Trantib Sleman. Mobil pemadam kebakaran juga terlihat disiagakan di depan kantor Balai Desa Balecatur sejak pagi hari.&lt;br /&gt;Kapolsek Gamping AKP Turaharjo mengungkapkan, pengamanan ketat ini untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya hal-hal yang dikhawatirkan mengganggu pilkades. Sebab sebelum pilkades, terjadi beberapa peristiwa perusakan terhadap rumah ketua RT dan pos ronda serta penebaran racun di kolam ikan milik warga. &lt;br /&gt;”Kami tidak mau ambil risiko. Melihat perkembangan situasi, kami memutuskan memperkuat pengamanan dengan melibatkan lebih banyak personel dari polres dan brimob. Kami juga didukung TNI serta petugas dari dinas Pol PP dan unit pemadam kebakaran,” ungkap AKP Turaharjo di sela pilkades. &lt;br /&gt;Sementara itu pilkdes berjalan dengan lancar. Sampai jadwal pemberian suara pukul 14.00, tak ada kejadian yang mengganggu jalannya pilkades. Masyarakat yang punya hak pilih, terlihat antusias memberikan suara mereka.&lt;br /&gt;Berdasarkan data yang diperoleh dari panitia, total jumlah pemilih sebanyak 13.020 orang. Dari jumlah tersebut, 2.211 kartu pemilih yang tak dipakai karena yang bersangkutan tak menggunakan hak suara mereka. (oto)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5338564852171294533-3596630610744748788?l=pnb2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5338564852171294533/posts/default/3596630610744748788'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5338564852171294533/posts/default/3596630610744748788'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pnb2008.blogspot.com/2008/04/senin-7-april-2008-dijaga-ketat-sebrat.html' title='[Senin 7 April 2008] Dijaga Ketat, Sebrat Menang, Pilkades di Balecatur Berlangsung Lancar'/><author><name>iwa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5338564852171294533.post-2922958552782964300</id><published>2008-03-09T14:43:00.000-07:00</published><updated>2008-04-12T09:35:49.008-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Journalism'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Journalists'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='reporting'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='writing'/><title type='text'>What is Journalism?</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Journalism is the discipline of gathering, writing and reporting news, and broadly it includes the process of editing and presenting the news articles. Journalism applies to various media, but is not limited to newspapers, magazines, radio, and television. Some high schools promote journalism as an elective class.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Journalism is what we know to be magazines, reporters, newspapers, and articles on websites such as Wiki-pedia. How to become a journalist? Major in English, journalism, or a type of creative writing. Also good to have past experiences about creative, expressive and realistic writing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;While under pressure to be the first to publish its stories, each news media organization adheres to its own standards of accuracy, quality, and style — usually editing and proofreading its reports prior to publication. Many news organizations claim proud traditions of holding government officials and institutions accountable to the public, while media critics have raised questions on the accountability of the press.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The word journalism is taken from the French journal which in turn comes from the Latin diurnal or daily; The Acta Diurna, a handwritten bulletin, was put up daily in the Forum, the main public square in ancient Rome, and was the world's first newspaper.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;News-oriented journalism was described by former Washington Post editor, Phil Graham, as "a first rough draft of history", because journalists often record important historical events as they are happening, but at the same time, they must produce their news articles on short deadlines.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Journalism's activities include stating Who, What, When, Where,and Why (and sometimes How), famously quoted by Rudyard Kipling (see the Five Ws), and stating the significance and effects of certain events or trends. Journalism exists in a number of media: newspapers, television, radio, magazines and, most recently, the World Wide Web through the Internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Journalists report and write on a wide variety of subjects: politics on the international, national, provincial and local levels, economics and business on the same four levels, health and medicine, education, sports, hobbies and recreation, lifestyles, clothing, food, pets, and relationships; journalists report on anything that news organizations think consumers will read. Journalists can report for general interest news outlets like newspapers, news magazines and broadcast sources; general circulation specialty publications like trade and hobby magazines, or for news publications and outlets with a select group of subscribers. Journalists are usually expected and required to go out to the scene of a story to gather information for their reports, and often may compose their reports in the field. They also use the telephone, the computer and the internet to gather information. However, more often those reports are written, and they are almost always edited in newsrooms, the offices where journalists and editors work together to prepare the content of news items.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Journalists, especially if they cover a specific subject or area (a 'beat') are expected to cultivate sources, people in the subject or area, that they can communicate with, either to explain the details of a story, or to provide leads to other subjects for stories yet to be reported. They are also expected to develop their investigative skills to research and report stories better.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Print journalism can be split into several categories: newspapers, news magazines, general interest magazines, trade magazines, hobby magazines, newsletters, private publications, online news pages and others. Each genre can have its own requirements for researching and writing reports.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;For example, newspaper journalists in the United States have traditionally written reports using the inverted pyramid style, although this style is used more for straight or hard news reports rather than features. Written hard news reports are expected to be spare in the use of words, and to list the most important information first, so that if the story must be cut because there is not enough space for it, the least important facts will be automatically removed. Editors usually ensure that reports are written with as few words as possible. Feature stories are usually written in a looser style which usually depends on the subject matter of the report, and are in general granted more space (see Feature-writing below).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;News magazine and general interest magazine articles are usually written in different styles, with less emphasis on the inverted pyramid. Trade publications can be more news-oriented, while hobby publications can be more feature-oriented.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5338564852171294533-2922958552782964300?l=pnb2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5338564852171294533/posts/default/2922958552782964300'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5338564852171294533/posts/default/2922958552782964300'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pnb2008.blogspot.com/2008/03/what-is-journalism.html' title='What is Journalism?'/><author><name>iwa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5338564852171294533.post-4799638294129467239</id><published>2008-03-03T09:29:00.000-08:00</published><updated>2008-04-12T09:39:35.353-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Semester'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ujian'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tengah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Soal'/><title type='text'>Soal Ujian Tengah Semester (UTS)</title><content type='html'>4 Maret 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawablah 3 (tiga) soal di bawah ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Membuat berita berpedoman yang dikenal sebagai piramida dan piramida terbalik. Jelaskan dan beri contoh berita menggunakan pola piramida dan piramida terbalik tersebut!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Ada beberapa faktor yang dapat mendukung berita menjadi menarik dan mengundang minat baca masyarakat. Menurut Anda, faktor apa sajakah itu? Sebutkan dan jelaskan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Ada beberapa sumber yang dapat dimanfaatkan untuk menggali dan memburu berita. Sebutkan dan jelaskan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ps: penjelasan (argumentasi) Anda sangat mempengaruhi penilaian, jawablah ketiga pertanyaan di atas dengan cerdas. tx&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggal pengumpulan: 11 Maret 2008 (Sesuai dengan jadwal ujian tengah semester Penulisan Naskah Berita). Jawaban dikumpulkan dengan dua format: (1) hardcopy; dikumpulkan di TU, sekalian tanda tangan kehadiran ujian tengah semester (2) softcopy; dikirim ke iwanudin@yahoo.com paling lambang 11 Maret 2008 pukul 00.00 wib&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5338564852171294533-4799638294129467239?l=pnb2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5338564852171294533/posts/default/4799638294129467239'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5338564852171294533/posts/default/4799638294129467239'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pnb2008.blogspot.com/2008/03/soal-ujian-tengah-semester-uts.html' title='Soal Ujian Tengah Semester (UTS)'/><author><name>iwa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5338564852171294533.post-4507617939659210810</id><published>2008-03-02T06:23:00.000-08:00</published><updated>2008-04-12T09:42:52.247-07:00</updated><title type='text'>Teknik Menulis Berita</title><content type='html'>Bahan kuliah Sabtu 1 Maret 2008&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Menulis=pekerjaan seni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pelukis terkenal pernah ditanya seseorang, "Bagaimana Anda melukis?" dia balik bertanya, "Apakah saudara punya buku panduan naik sepeda?" Menulis berita pun tak jauh beda dengan pekerjaan melukis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena berita menyajikan fakta, terdapat kaidah yang tak boleh ditinggalkan wartawan. Ada banyak buku panduan dan teknik menulis berita yang sudah diterbitkan meski pokok-pokoknya mengacu pada satu hal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan majalah yang sifat beritanya lebih analisis, berita keras tidak boleh beropini. Tulisan hanya menyajikan fakta-fakta. Waktu, menjadi perhatian lainnya. Berita majalah berbentuk feature berita sehingga sifatnya tidak tergantung waktu. Sedangkan koran yang terbit harian sifat beritanya terbatas waktu. Esok harinya, sudah ada berita baru sebagai perkembangan berita sebelumnya. Apalagi media dotcom yang melaporkan perkembangan dari jam ke jam bahkan dari menit ke menit. Di sini dibatasi menulis berita keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Judul berita sebisa mungkin dibuat dengan kalimat pendek, tapi bisa menggambarkan isi berita. Pemberian judul menjadi penentu apakah pembaca tertarik membaca berita yang ditulis atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Menggunakan kalimat aktif agar daya dorongnya lebih kuat. Seorang penulis novel terkenal bilang, "Kalimat pasif itu aman," katanya. Mungkin benar, tapi memberi judul berita bukan soal aman atau tidak aman. Judul aktif lebih menggugah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandingkan misalnya judul&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Suami Istri Ditabrak Truk di Jalan Tol"&lt;br /&gt;dengan&lt;br /&gt;"Truk Tronton Tabrak Suami Istri di Jalan Tol"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul kedua, rasanya, lebih hidup dan kuat. Namun pemberian judul aktif tidak baku. Ada judul berita yang lebih kuat dengan kalimat pasif. Biasanya si subjek berita termasuk orang terkenal. Misalnya judul "Syahril Sabirin Divonis 3 Tahun Penjara."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Persoalan judul menjadi menarik seiring munculnya media berita internet. Memberi judul untuk koran yang waktunya sehari tidak akan memancing pembaca jika mengikuti peristiwa yang terjadi, karena peristiwa itu sudah basi dan ditulis habis di media dotcom. Memberi judul untuk koran sebaiknya memikirkan dampak ke depan. Misalnya, judul "Syahril Sabirin Divonis 3 Tahun Penjara."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi koran yang terbit esok pagi, misalnya, judul ini basi karena media dotcom dan radio (juga) televisi, sudah memberitakannya begitu vonis dijatuhkan. Untuk mengetahui dampak ke depan setelah vonis dijatuhkan, wartawan yang meliput harus kerja lebih keras. Misalnya dengan bertanya ke sumber-sumber dan Syahril sendiri soal dampak dari vonis itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca, tentu saja ingin tahu perkembangan berikutnya pada pagi hari setelah mendengar berita tersebut dari radio, televisi dan membaca internet malam sebelumnya. Namun, soal judul untuk koran dan media dotcom dengan cara seperti ini masih menjadi perdebatan. Karena judul "Syahril Sabirin Divonis..." masih kuat ketika ditulis esok harinya. Ini hanya soal kelengkapan saja. Jika dotcom dan media elektronik hanya membuat breaking news-nya saja, koran? karena mempunyai waktu tenggat lebih lama bisa melengkapi dampak-dampak tersebut di tulisannya, meski memakai judul yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Selain judul, lead bisa menjadi penentu seorang pembaca akan melanjutkan bacaannya atau tidak. Sehingga beberapa buku panduan menulis berita menyebut lebih dari 10 lead yang bisa dipakai dalam sebuah berita. Namun, hal yang tak boleh dilupakan dalam menulis lead adalah unsur 5W+1H (Apa/What, Di mana/Where, Kapan/When, Mengapa/Why, Siapa/Who dan Bagaimana/How) .&lt;br /&gt;Pembaca yang sibuk, tentu tidak akan lama-lama membaca berita. Pembaca akan segera tahu apa berita yang ditulis wartawan hanya dengan membaca lead. Tentu saja, jika pembaca masih tertarik dengan berita itu, ia akan melanjutkan bacaannya sampai akhir. Dan tugas wartawan terus memancing pembaca agar membaca berita sampai tuntas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Lead terkait dengan peg atau biasa disebut pelatuk berita. Seorang reporter ketika ditugaskan meliput peristiwa harus sudah tahu "pelatuk" apa yang akan dibuat sebelum menulis berita. Pelatuk berbeda dengan sudut berita. Misalkan reporter ditugaskan meliput banjir yang merendam ratusan rumah dan warga mengungsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudut berita: peristiwa banjir itu sendiri&lt;br /&gt;Peg: warga yang mengungsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mana yang menarik dijadikan lead? Bisa memilih sendiri. Membuat lead soal mengungsi mungkin lebih menarik dibanding banjir itu sendiri. Karena ini menyangkut manusia yang secara langsung akan berhubungan dengan pembaca. Berita lebih menyentuh jika mengambil lead ini. Manusia, secara lahiriah, senang menggunjingkan manusia lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Badan Berita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Penentuan lead membantu reporter menginventarisasi bahan-bahan berita. Sehingga penulisan berita menjadi terarah dan tidak keluar dari lead. Inilah yang disebut badan berita. Ada hukum lain selain soal unsur pada poin 1 tadi, yakni piramida terbalik. Semakin ke bawah, detail-detail berita semakin tidak penting. Sehingga ini akan membantu editor memotong berita jika space tidak cukup tanpa kehilangan pentingnya berita itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Untuk lebih mudahnya, susun berita yang berawal dari lead itu secara kronologis. Sehingga pembaca bisa mengikuti seolah-olah berita itu suatu cerita. Teknik ini juga akan membantu reporter memberikan premis penghubung antar paragraf. Hal ini penting, karena berita yang melompat-lompat, selain mengurangi kejelasan, juga mengurangi kenyamanan membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Cek dan ricek bahan yang sudah didapat. Dalam berita, akurasi menjadi hal yang sangat penting. Jangan sungkan untuk menanyakan langsung ke nara sumber soal namanya, umur, pendidikan dan lain-lain. Bila perlu kita tulis di secarik kertas lalu sodorkan ke hadapannya apakah benar seperti yang ditulis atau tidak. Akurasi juga menyangkut fakta-fakta. Kuncinya selalu cek-ricek-triple cek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Bahasa menjadi elemen yang penting dalam berita. Bayangkan bahwa pembaca itu berasal dari beragam strata. Bahasa yang digunakan untuk berita hendaknya bahasa percakapan. Berita yang bagus adalah berita yang dekat dengan pembaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Menulis lead yang bicara. Untuk mengujinya, bacalah lead atau berita tersebut keras-keras. Jika sebelum titik, nafas sudah habis, berarti berita yang dibuat tidak bicara, melelahkan dan tidak enak dibaca. Ada buku panduan yang menyebut satu paragraf dalam sebuah berita paling panjang dua-tiga kalimat yang memuat 20-30 kata. Untuk menyiasatinya cobalah menulis sambil diucapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Berita yang bagus adalah berita yang seolah-olah bisa didengar. Prinsipnya sederhana, makin sederhana makin baik. Seringkali reporter terpancing menuliskan berita dengan peristiwa sebelumnya jika berita itu terus berlanjut, sehingga kalimat jadi panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Menghidari kata sifat. Menulis berita dengan kata sifat cenderung menggurui pembaca. Pakailah kata kerja. Menulis berita adalah menyusun fakta-fakta. Kata "memilukan", misalnya, tidak lagi menggugah pembaca dibanding menampilkan fakta-fakta dengan kata kerja dan contoh-contoh. Tangis perempuan itu memilukan hati, misalnya. Pembaca tidak tahu seperti apa tangis yang memilukan hati itu. Menuliskan fakta-fakta yang dilakukan si perempuan saat menangis lebih bisa menggambarkan bagaimana perempuan itu menangis. Misalnya, rambutnya acak-acakan, suaranya melengking, mukanya memerah dan lain-lain. "Don't Tell, But Show!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Menuliskan angka-angka. Pembaca kadang tidak memerlukan detail angka-angka. Kasus korupsi seringkali melibatkan angka desimal. Jumlah Rp 904.775.500, lebih baik ditulis "lebih dari Rp 904 juta atau lebih dari Rp 900 juta".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ekstrak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Jangan pernah menganggap pembaca sudah tahu berita yang ditulis. Dalam menulis berita seorang reporter harus menganggap pembaca belum tahu peristiwa itu, meski peristiwanya terus berlanjut dan sudah berlangsung lama. Tapi juga jangan menganggap enteng pembaca, sehingga timbul kesan menggurui. Menuliskan ekstrak peristiwa sebelumnya dalam berita dengan perkembangan terbaru menjadi penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal paling baik bisa menulis berita yang enak dibaca adalah mencobanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referensi:&lt;br /&gt;1. Simbolon, Parakitri T., 1997. Vademekum Wartawan. Jakarta. Kepustakaan Populer Gramedia&lt;br /&gt;2. Hadad, Toriq dan Bambang Bujono (Ed)., 1997. "Seandainya Saya Wartawan Tempo". Jakarta. Institut Studi Arus Informasi dan Yayasan Alumni Tempo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5338564852171294533-4507617939659210810?l=pnb2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5338564852171294533/posts/default/4507617939659210810'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5338564852171294533/posts/default/4507617939659210810'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pnb2008.blogspot.com/2008/03/teknik-menulis-berita.html' title='Teknik Menulis Berita'/><author><name>iwa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5338564852171294533.post-3731913191315376837</id><published>2008-02-29T05:39:00.000-08:00</published><updated>2008-03-10T11:00:34.314-07:00</updated><title type='text'>Unsur-Unsur Berita</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Sabtu, 23 Februari 2008&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;Khususnya bagian tubuh berita dan teras (bila ada) diharapkan hanya mengandung unsur-unsur yang berupa fakta, unsur-unsur faktual, dengan meminimalkan unsur-unsur non-faktual yang berupa opini. Apa yang disebut sebagai “fakta” di dalam kerja jurnalistik terurai menjadi enam unsur yang biasa diringkas dalam sebuah rumusan klasik 5W + 1H.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;                &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:11;"&gt;(1) &lt;i&gt;What &lt;/i&gt;– apa yang terjadi di dalam suatu peristiwa?&lt;br /&gt;(2) &lt;i&gt;Who &lt;/i&gt;– siapa yang terlibat di dalamnya?&lt;br /&gt;(3) &lt;i&gt;Where &lt;/i&gt;– di mana terjadinya peristiwa itu?&lt;br /&gt;(4) &lt;i&gt;When &lt;/i&gt;– kapan terjadinya?&lt;br /&gt;(5) &lt;i&gt;Why &lt;/i&gt;– mengapa peristiwa itu terjadi?&lt;br /&gt;(6) &lt;i&gt;How &lt;/i&gt;– bagaimana terjadinya?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(7) &lt;i&gt;What next&lt;/i&gt; – terus bagaimana?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;Berita yang lengkap mengandung 6 unsur tsb. Dalam praktik sehari-hari, ada juga berita yang tidak memuat seluruh unsur tsb. Hal itu mungkin saja terjadi, karena keterbatasan ruang atau keterbatasan waktu, sehingga unsur yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;paling menonjol sajalah yang dimuat.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;Dari 6 unsur tsb, yang mana harus ditonjolkan merupakan pilihan redaktur bidang yang bersangkutan. &lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;Ketajaman memilih yang ingin ditonjolkan (istilah dalam dunia pers: “lead”) tergantung dari si pembuat berita dan redakturnya.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;Unsur lain yang perlu diperhatikan dalam pembuatan berita adalah:&lt;/p&gt;    &lt;ul&gt;&lt;li&gt;harus relevan, hangat, eksklusif, ada tujuannya, unik, trendy, prestisius, dramatik, jenaka, memiliki dimensi human interest, magnitude, &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;gaya&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; bahasa, desain dan tataletak yang menarik, foto atau karikatur yang menarik. Lalu disesuaikan dengan watak dan kapasitas media yang bersangkutan, karena ada perbedaan antara media cetak dengan media eletronik.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Dari berbagai aspek tsb ada beberapa yang patut dijadikan pedoman untuk wartawan dan redaktur: &lt;/p&gt;          &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Eksklusif&lt;/li&gt;&lt;li&gt;relevan dan masih hangat&lt;/li&gt;&lt;li&gt;dramatik&lt;/li&gt;&lt;li&gt;jenaka&lt;/li&gt;&lt;li&gt;memiliki dimensi human interest. &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Disesuaikan dengan bidangnya:     &lt;ol&gt;&lt;li&gt;Politik&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hukum&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kebudayaan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;celebrities. &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Biasanya redaksi memiliki T.O.R (Terms of References) dalam hal memberi pedoman kerja tsb.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-weight: bold;" class="MsoNormal"&gt;CARA MENYUSUN BERITA&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Membuat berita berpedoman yang dikenal sebagai piramida dan piramida terbalik.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Yang dimaksud dengan &lt;i&gt;&lt;span style=""&gt;berita piramida&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;:&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Unsur berita terpenting (menurut redaktur/pembuat beritanya) diletakkan dalam awal berita (di puncak piramidanya); misal: berita tentang celebrities, maka yang didahulukan adalah namanya (the Who) atau What-nya (masalahnya: cerai kawin lagi, punya anak kembar, dll). Unsur W lainnya dan H diletakkan belakangan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt;Mempergunakan &lt;i&gt;&lt;span style=""&gt;piramida terbalik&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;,   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;unsur pendalaman berita didahulukan (biasanya the Why), baru diikuti peletakan unsur W lainnya dan H-nya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Pada dasarnya memilih ini adalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“memilih yang mana yang akan paling banyak menarik apakah theWhat atau the HOW atau the Where atau the Who dan When-nya atau the How-nya&lt;/span&gt;''?&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Wartawan dan redaktur yang “jeli dan lihai” secara otomatis (intuitif) dapat menetapkan dalam waktu cepat (waktu: unsur penting dalam dunia jurnalistik!): yang mana harus didahulukan dan mempergunakan piramida yang mana yang paling cocok. Di sini terletak “kepandaian memilih” dari pribadi wartawan dan redakturnya.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Dalam cara menyusun berita, ada unsur lain soal “Judul Berita”&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Dalam pembuatan judul berita, juga memilih dari unsur 5 W dan 1 H tsb. yang mana akan lebih menarik pembaca/pendengar/pemirsa sehingga timbul minat mereka untuk “terseret” membaca, mendengar dan melihat berita tsb.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; yang disebut “piramida” , “piramida terbalik”.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-weight: bold;" class="MsoNormal"&gt;APAKAH OPINI?&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Secara singkat bahwa “opini adalah pendapat yang terlepas secara teknis dari berita”. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Penjelasan singkat: sebuah opini seringkali berkaitan langsung dengan berita; namun dalam “etika kalangan wartawan sedunia” opini harus dipisahkan dari berita. Oleh karena itulah, penulis mengatakan “…..terlepas secara teknis……” dalam perumusannya tsb.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Dalam prakteknya pemisahan secara teknis itu berarti bahwa dalam berita tidak boleh ada opini dari pembuat berita (-wartawan dan redakturnya).&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;Opini atau pendapat bisa mengambil bentuk komentar, tulisan artikel di rubrik tanya-jawab, wawancara khusus mengenai sebuah berita dari narasumber. Hasil kerja menghasilkan opini itu tidak boleh dicampuri pendapat wartawan dan redaktur yang mengerjakannya/membuat dan menyiarkannya. Jika wartawan maupun redakturnya ingin mengemukakan pendapatnya sendiri maka dia harus mengambil bentuk artikel atau rubrik khusus seperti ruang Tajuk Rencana sebuah penerbitan harian/majalah.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;Hanya saja, dalam praktik, wartawan dan redaktur yang “lihai” dapat “menitipkan” opininya melalui narasumber yang diwawancarainya; &lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;Pengalaman praktik akan membuat Anda lebih tajam “merasakan” dan dapat mempraktekkan dengan baik.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5338564852171294533-3731913191315376837?l=pnb2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5338564852171294533/posts/default/3731913191315376837'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5338564852171294533/posts/default/3731913191315376837'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pnb2008.blogspot.com/2008/02/unsur-unsur-berita.html' title='Unsur-Unsur Berita'/><author><name>iwa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5338564852171294533.post-3748922744752088413</id><published>2008-02-17T21:01:00.000-08:00</published><updated>2008-02-17T21:20:17.178-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='nilai berita'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='news value'/><title type='text'>Nilai-Nilai Berita</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sabtu 16 Februari 2008&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Apa yang pantas dijadikan berita; apa yang bukan? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Belum ada ahli yang berhasil menyusun definisi yang paling memuaskan mengenai nilai berita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kriteria-kriteria berikut biasanya diperoleh buku-buku jurnalistik:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1. Magnitude&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Seberapa luas pengaruh suatu peristiwa bagi khalayak. Contoh: Berita tentang kenaikan harga BBM lebih luas pengaruhnya terhadap SELURUH masyarakat Indonesia ketimbang berita tentang gempa bumi di Jawa Tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2. Significance &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Seberapa penting arti suatu peristiwa bagi khalayak&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Contoh: &lt;/span&gt;Berita tentang wabah SARS lebih penting bagi khalayak; ketimbang berita tentang kenaikan harga BBM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3. Actuality &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Yaitu tingkat aktualitas suatu peristiwa.&lt;br /&gt;Berita tentang kampanye calon presiden sangat menarik jika dibaca pada tanggal 1 hingga 30 Juni 2004. Setelah itu, berita seperti ini akan menjadi sangat basi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;4. Proximity &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Yaitu kedekatan peristiwa terhadap khalayak.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Contoh: &lt;/span&gt;Bagi warga Jawa Barat, berita tentang gempa bumi di Bandung lebih menarik ketimbang berita tentang gempa bumi di Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;5. Prominence &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Yaitu akrabnya peristiwa dengan khalayak.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Contoh: &lt;/span&gt;Berita-berita tentang Indonesian Idol lebih akrab bagi remaja Indonesia ketimbang berita-berita tentang Piala Thomas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;6. Kejelasan (clarity) &lt;/span&gt;tentang kejadiannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;7. Kejutan (surprise) &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;8. Dampak (impact) &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Berapa banyak manusia terkena dampaknya, seberapa luas, dan untuk berapa lama?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;9. Konflik personal.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;10. Human Interest &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Yaitu kemampuan suatu peristiwa untuk menyentuh perasaan kemanusiaan khalayak.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Contoh: &lt;/span&gt;Berita tentang nasib TKI Indonesia yang dianiaya di Malaysia, diminati khalayak, karena berita ini mengandung nilai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;human interest &lt;/span&gt;tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Yang mengandung unsur human interest:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ketegangan (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Suspense&lt;/span&gt;)&lt;/span&gt; – Apa keputusan yang akan dijatuhkan dalam pengadilan kasus pembunuhan sadis itu?&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Keanehan/Ketidaklaziman (&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Unusualness&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;) &lt;/span&gt;–Seorang wanita melahirkan bayi kembar lima.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Minat pribadi (&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Personal Interest&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;) &lt;/span&gt;– Gaun sekarang ada yang tidak perlu disetrika sehabis dicuci.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Konflik (&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Conflict&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;) &lt;/span&gt;– Umumnya manusia memberi perhatian pada konflik: perang, kriminalitas atau olahraga atau persaingan dalam bidang apa pun karena di dalamnya terkandung unsur konflik.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Simpati (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sympathy&lt;/span&gt;) &lt;/span&gt;–Seorang bocahkehilangan ketiga kakak dan kedua orang tuanya pada musibah Tsunami di Aceh.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kemajuan (&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Progress&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;) &lt;/span&gt;–Suatu vaksin pencegah AIDS tengah di kembangan di Prancis.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Seks (&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Sex&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;) &lt;/span&gt;– Seorang aktor menggugat cerai istrinya yang juga artis karena selingkuh dengan ketua salah satu partai.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Binatang (&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Animals&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;) &lt;/span&gt;–Seekor anjing menyelamatkan majikannya yang buta dalam suatu peristiwa kebakaran.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Humor (&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Humor&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;) &lt;/span&gt;– Seorang politisi berpidato satu jam di mimbar tanpa menyadari mikrofonnya itu mati.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Suatu berita tidak harus memenuhi semua kriteria tadi. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Namun, semakin banyak unsur tersebut yang melekat dalam suatu peristiwa maka nilai beritanya semakin tinggi.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ketika seorang redaktur meminta wartawan untuk melaporkan hal yang menurut wartawan menarik, pasti sudah memiliki sensor tertentu untuk memilah mana yang menarik dan mana yang tidak.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Masalahnya bagaimana membuat pembaca juga merasakan bahwa hal yang ingin kita sampaikan itu memang penting untuk dibagi kepada orang lain.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jadi penting untuk memaparkan sesuatu itu dengan cara bercerita yang sedapat mungkin mengundang minat banyak orang, entah itu menjadi masalah kita semua, menjadi lucu atau menjadi mengharukan bagi kita semua.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hal ini biasanya sudah dimulai dari paragraf awal (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;lead&lt;/span&gt;) turun terus sampai ke tubuh tulisan dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ending&lt;/span&gt;.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Untuk itu wartawan mesti tegas memilih &lt;span style="font-style: italic;"&gt;angle &lt;/span&gt;sebelum menulis, sebetulnya apa yang hendak disampaikan?&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Apa yang penting untuk diketahui dan dirasakan oleh pembaca?&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Potong informasi, detil atau apapun yang tidak mendukung pilihan awal kita, daripada pembaca di akhir tulisan akan kembali bingung sebetulnya apa yang hendak disampaikan.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5338564852171294533-3748922744752088413?l=pnb2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5338564852171294533/posts/default/3748922744752088413'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5338564852171294533/posts/default/3748922744752088413'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pnb2008.blogspot.com/2008/02/nilai-nilai-berita.html' title='Nilai-Nilai Berita'/><author><name>iwa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5338564852171294533.post-8363038913172535928</id><published>2008-02-12T20:56:00.000-08:00</published><updated>2008-02-12T21:14:07.770-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='jurnalistik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='berita'/><title type='text'>Pengenalan Berita dan Jurnalistik</title><content type='html'>Sabtu 9 Februari 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita dalam surat kabar menduduki posisi penting, menyita hampir 60 % dari keseluruhan isinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa? Masih ada berita dalam bentuk Artikel, Features, Tajuk, Kolom, Berita Foto, Karikatur dan Gambar Strip serta Iklan. Ini mengingat berita merupakan kebutuhan pokok pembaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita merupakan suatu tulisan yang memuat fakta dari salah satu kejadian yang menarik minat pembaca untuk mengetahuinya. Jadi tidak mustahil kalau berita menjadi primadona yang banyak menyita halaman surat kabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa faktor yang dapat mendukung berita menjadi menarik dan mengundang minat baca masyarakat, diantaranya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. obyeknya menarik, karena ada sesuatu yang aneh, hebat atau menyangkut nama tokoh dan tempat yang terkenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Punya dampak yang dengan dampak berita itu orang merasakan terlibat di dalamnya, baik perasaan maupun kepentingannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Dihidangkan pada waktu yang cepat dan tepat. (hangat) dan (akurat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Dilaporkan secara lengkap, teliti, benar, serta ditulis dengan susunan bahasa yang indah dan enak dibaca dan mudah dicerna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DARI MANA SUMBER BERITA?&lt;br /&gt;Ada beberapa sumber yang dapat dimanfaatkan untuk menggali dan memburu berita di antaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Inspirasi&lt;br /&gt;   Bisa bermula dari diri wartawan atau orang lain yang dekat dengannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Informasi&lt;br /&gt;   a. Mendengarkan (listening)&lt;br /&gt;   b. Menggali sejarah hidup seseorang (life history methode)&lt;br /&gt;   c. Menjadi “pengamat-peserta” (partisipant-observer)&lt;br /&gt;   d. Mengamati (watching)&lt;br /&gt;   e. Melakukan introspeksi &lt;br /&gt;      - pengalaman diri (internal experience)&lt;br /&gt;      - dengan metode participant dan empathy (the ability to feel&lt;br /&gt;        what others feel)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Penugasan / tugas khusus dari redaksi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Peristiwa tak terduga (bencana alam, kecelakaan, kebakaran dan peristiwa lain yang punya nilai berita tinggi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAGAIMANA MEMPEROLEH BERITA?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wartawan bukan manusia super. Namun karena profesinya, ia dituntut menguasai berbagai ragam pemikiran dan persoalan yang terjadi di tengah masyarakat. Untuk itu wartawan dituntut mengembangkan kemampuan bila tidak ingin “ketinggalan kereta”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa persyaratan yang selalu diperhatikan seorang wartawan untuk mendapatkan berita yang selalu hangat setiap saat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Punya pengalaman luas&lt;br /&gt;2. Tahu sedikit dari yang banyak, tapi tahu banyak dari yang sedikit&lt;br /&gt;3. Punya banyak sumber berita dan relasi&lt;br /&gt;4. Punya sense of news dan feeling&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5338564852171294533-8363038913172535928?l=pnb2008.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5338564852171294533/posts/default/8363038913172535928'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5338564852171294533/posts/default/8363038913172535928'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://pnb2008.blogspot.com/2008/02/pengenalan-berita-dan-jurnalistik.html' title='Pengenalan Berita dan Jurnalistik'/><author><name>iwa</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry></feed>
